Pernahkah kamu berjumpa dengan seseorang yang memiliki banyak sekali kenalan? Hampir selalu ada saja yang menyapanya tatkala ia melintas. Mungkin tak sekadar rekan kerja, namun ia juga mudah menjalin kedekatan dengan orang asing, bahkan anak-anak.
Begitu disukai banyak orang, ia seolah menjadi “pusat perhatian yang bergerak”. Hal ini bukan tanpa alasan, individu tersebut memiliki kebiasaan yang ternyata membuat orang lain merasa nyaman dan senang saat berada di dekatnya. Apa sajakah kebiasaan tersebut? Apakah kamu juga mengamalkannya?
1. Menyapa dengan Memanggil Nama
Panggilan seperti “Kak”, “Mas”, atau “Mba” terasa aman ketika kamu lupa nama seseorang. Namun, individu yang disukai banyak orang tidak melewatkan satu hal yang terkesan remeh, tetapi sebenarnya sangat dihargai oleh orang lain. Ia akan menyapa dengan menyebut nama orang tersebut.
Amanda Cooper, seorang asisten profesor di departemen komunikasi di Universitas Connecticut, menyampaikan kepada Time bahwa penggunaan nama seseorang merupakan cara yang efektif untuk menunjukkan keramahan dan niat baik. “Otak manusia sudah terkalibrasi untuk mengenali ketika seseorang menyebut namamu-kita menyukainya,” ungkapnya.
2. Mendengar secara Aktif
Individu yang mendengarkan secara aktif juga sangat disukai oleh orang lain. Oleh karena itu, ketika ada orang lain berbicara, pastikan kamu benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan. Cooper menyatakan bahwa mendengarkan secara aktif berarti “benar-benar memberikan ruang kognitif bagi seseorang untuk menyimak perkataannya.”
Cara menunjukkannya bisa melalui bahasa tubuh, seperti menjaga kontak mata, mengangguk sebagai tanda pemahaman terhadap apa yang diucapkan, hingga mengajukan pertanyaan lebih lanjut mengenai topik yang dibahas.
Baca juga: Menyelami Gelung Nusantara: Jati Diri Budaya Perempuan Tanah Air
3. Berbuat Baik
4. Tersenyum dengan Tulus
Cara termudah untuk disukai orang adalah dengan memberikan senyuman tulus kepada orang lain. Emiliana Simon-Thomas, selaku Direktur Sains di Greater Good Science Center Universitas California di Berkeley, menjelaskan bahwa senyuman yang tulus, bukan dibuat-buat, dapat membangkitkan rasa aman dan kepercayaan, karena “secara otomatis muncul rasa kepuasan sosial, seperti, ‘Saya bisa mengandalkan orang itu. Kita berada dalam situasi yang sama’.”
