Home » Kebiasaan Sehari-hari yang Menyingkap Orang yang Terobsesi Kesempurnaan

Kebiasaan Sehari-hari yang Menyingkap Orang yang Terobsesi Kesempurnaan

Ada orang yang berusaha keras untuk menggapai kesempurnaan dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai seorang perfeksionis, mereka akan selalu berusaha keras dan memberikan yang terbaik. Namun, sebenarnya, terobsesi untuk selalu sempurna bisa menjadi kebiasaan yang buruk dan merusak diri sendiri.

Seseorang yang terobsesi dengan kesempurnaan merasa bahwa ini adalah cara bagi mereka untuk membuktikan nilai dirinya kepada diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, mereka akan berhadapan dengan siklus kritik diri yang tak berujung dan bisa berdampak pada penerimaan diri. Mereka juga akan takut gagal karena selalu ingin semuanya berjalan sempurna.

Dirangkum dari Your Tango, berikut ini cara mengenali orang yang terobsesi jadi sempurna dari kebiasaannya sehari-hari.

Mengaitkan Identitas Diri dengan Pekerjaan

Orang yang terobsesi menjadi sempurna sering mengaitkan identitas dirinya dengan pekerjaan. Hal ini bisa memicu stres atau krisis identitas saat mereka berhadapan dengan kegagalan. Akibatnya, mereka bisa merasa hancur dan tidak percaya diri.

Orang yang terobsesi menjadi sempurna sering mengaitkan identitas dirinya dengan pekerjaan. Di satu sisi, ini dapat memotivasi mereka dan memberikan arahan karier yang jelas. Namun, hal ini bisa memicu stres atau krisis identitas saat mereka berhadapan dengan kegagalan.

Akibatnya, mereka bisa merasa hancur dan tidak percaya diri. Terapis Vienna Pharaon menjelaskan, “Jika harga diri Anda, nilai Anda sebagai manusia, terkait dengan kemampuan Anda untuk menjadi sempurna, saat Anda melakukan kesalahan, saat Anda tidak sempurna, saat Anda melakukan sesuatu yang tidak membuat Anda terlihat baik, saat itulah para perfeksionis cenderung jatuh dan melindungi diri sendiri.”

Menghindari Mencoba Hal Baru

Kegagalan layaknya akhir dari segalanya bagi orang yang terobsesi jadi sempurna. Ketakutan ini membuat mereka jadi enggan bahkan menghindar dari mencoba berbagai hal baru dalam hidup.

Bagi orang yang terobsesi menjadi sempurna, kegagalan seringkali terasa seperti akhir dari segalanya. Ketakutan ini membuat mereka jadi enggan bahkan menghindar dari mencoba berbagai hal baru dalam hidup.

Mereka mengasosiasikan hal baru dengan sesuatu yang tidak familiar, yang erat kaitannya dengan risiko kegagalan yang tinggi. Mencoba sesuatu yang baru berarti ada risiko melakukan kesalahan.

Mereka menganggap ini dapat merusak citra kesempurnaan dan memicu kecemasan yang luar biasa. Akhirnya, mereka lebih memilih kenyamanan dari hal-hal yang sudah dikenal dan dapat diprediksi.

Lebih Menyukai Hal yang Dapat Diprediksi daripada Tantangan

Alih-alih kesempatan untuk belajar dan bertumbuh, mereka memandang tantangan baru sebagai sebuah ancaman besar yang bisa meruntuhkan standar tinggi yang sudah mereka bangun.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, orang yang terobsesi dengan kesempurnaan sangat takut akan kegagalan. Bagi mereka, kegagalan berarti mereka tidak cukup mampu, dan mereka menganggap kegagalan sebagai kegagalan diri sebagai manusia.

Alih-alih melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh, mereka memandang tantangan baru sebagai sebuah ancaman besar yang bisa meruntuhkan standar tinggi yang sudah mereka bangun. Oleh karena itu, mereka lebih senang berada di zona nyaman dan bertahan dengan hal yang mudah diprediksi, karena memberikan jaminan hasil yang aman dan minim risiko.

Artikel menarik Lainnya