Home » Mengenal Sindrom Imposter yang Sedang Populer

Mengenal Sindrom Imposter yang Sedang Populer

Skincapedia.com – Pernahkah Anda merasa bahwa pencapaian yang telah diraih sebenarnya hanya karena keberuntungan semata? Atau mungkin Anda sering dihantui kekhawatiran bahwa suatu hari nanti orang lain akan menyadari bahwa Anda sebenarnya tidak sehebat yang mereka pikirkan? Perasaan-perasaan tersebut dikenal dengan istilah Imposter Syndrome.

Dunia internet memang selalu menghadirkan istilah-istilah baru yang tak ada habisnya. Namun, seringkali istilah baru tersebut justru membentuk pemikiran dan kepribadian yang membantu Anda mengenal diri sendiri lebih dalam. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Imposter Syndrome?

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang istilah ini, mari kita telusuri lebih dalam.

1. Tentang Imposter Syndrome

Anda mungkin pernah mendengar istilah imposter syndrome beredar di internet. Yup! Imposter syndrome adalah sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak pantas mendapatkan pencapaian yang telah diraihnya. Perasaan ini seolah-olah keberhasilan tersebut hanya berkat keberuntungan, bantuan orang lain, atau sekadar kebetulan semata.

Biasanya, individu yang mengalami kondisi ini sering kali dihantui rasa takut ‘ketahuan’ bahwa dirinya sebenarnya tidak sehebat yang orang lain bayangkan, meskipun bukti nyata berupa kemampuan, kerja keras, atau prestasi telah jelas terlihat.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1978 oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes. Mereka mengamati adanya pola perasaan tersebut pada banyak perempuan berprestasi. Imposter syndrome dapat muncul dalam berbagai skenario kehidupan, seperti di lingkungan pekerjaan, dunia pendidikan, interaksi sosial, atau ketika memulai sesuatu yang baru.

2. Ciri-ciri Orang yang Mengalami Imposter Syndrome

Ciri-ciri seseorang yang mengalami imposter syndrome umumnya terlihat dari cara mereka menilai diri sendiri dan pencapaian mereka. Mereka cenderung kesulitan untuk mengakui keberhasilan diri sendiri, dan sering merasa bahwa pencapaian mereka bukanlah hasil dari kemampuan pribadi.

Ketakutan akan dianggap tidak kompeten menjadi momok yang menghantui, serta kekhawatiran bahwa suatu saat orang lain akan menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak sehebat yang terlihat. Perasaan takut ini bisa muncul meskipun orang-orang di sekitar justru memandang mereka sebagai individu yang sangat mampu.

Di sisi lain, mereka cenderung sangat perfeksionis dan selalu menetapkan standar yang sangat tinggi bagi diri sendiri. Akibatnya, mereka merasa harus terus-menerus memberikan hasil yang sempurna. Bahkan, kesalahan kecil sekalipun dapat memicu mereka untuk overthinking.

Individu dengan imposter syndrome juga kerap kali membandingkan diri mereka dengan orang lain. Selain itu, karena sering meragukan kemampuan diri, mereka merasa tidak nyaman ketika menerima pujian. Ketakutan akan kegagalan juga membuat mereka enggan mencoba hal-hal baru.

Meskipun memiliki tingkat insecure yang tinggi, mereka biasanya sangat bertanggung jawab, pekerja keras, dan memiliki standar yang tinggi. Namun, mereka cenderung kesulitan melihat nilai dan usaha yang telah mereka curahkan.

Penting untuk diingat, imposter syndrome bukanlah diagnosis resmi dari gangguan mental. Ini lebih merupakan pola pikir atau perasaan yang bisa dialami oleh banyak orang.

3. Pandangan Psikologi

Berdasarkan penelitian Clance dan Imes (1978), pola utama dari imposter phenomenon meliputi perasaan tidak pantas atas keberhasilan yang diraih, kecenderungan mengaitkan kesuksesan dengan faktor eksternal, serta ketakutan bahwa orang lain akan mengungkap bahwa diri mereka tidak seperti yang terlihat.

Meskipun bukan merupakan gangguan mental resmi, pola pikir ini dapat memicu kecemasan (anxiety) dan berpotensi menghambat perkembangan diri seseorang. Dalam ranah psikologi, hal ini tidak berarti seseorang benar-benar seorang ‘penipu’ atau tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, ini adalah pola pikir yang membuat seseorang kesulitan untuk menginternalisasi kesuksesan yang telah dicapai.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa fenomena ini dapat dialami oleh berbagai gender dan dalam berbagai situasi. Terutama, hal ini kerap muncul ketika seseorang dihadapkan pada tuntutan pencapaian yang tinggi atau berada dalam lingkungan yang penuh tekanan.

4. Cara Mengatasinya

Dalam perspektif psikologi, pola pikir seperti ini tidak dianggap sebagai sifat kepribadian yang permanen, melainkan sebagai sebuah pola keyakinan dan cara seseorang dalam menafsirkan dirinya sendiri.

Mengatasi imposter syndrome dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain mengenali pencapaian diri sendiri, mengubah cara berbicara kepada diri sendiri, serta memahami bahwa perasaan ragu tidak serta-merta berarti seseorang tidak mampu.

Banyak individu yang mengalami kondisi ini dapat mengurangi intensitas perasaan tersebut melalui peningkatan kesadaran diri, perubahan pola pikir, dan keberanian untuk mencoba pengalaman baru yang dapat membantu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuan diri.

Intinya, jika Anda sedang berada dalam situasi ini, langkah terpenting adalah benar-benar mengenali diri sendiri dan kemampuan yang Anda miliki.

Hindari membandingkan diri Anda dengan orang lain, cobalah untuk berpikir positif, senantiasa bersyukur bahkan atas hal-hal kecil, simpanlah bukti-bukti pencapaian Anda, dan jangan ragu untuk berbagi cerita serta pengalaman dengan orang lain.

Artikel menarik Lainnya