Skincapedia.com – Mengalami positif COVID-19 bisa menjadi pengalaman yang menakutkan, namun dengan penanganan yang tepat, proses pemulihan bisa berjalan lebih lancar. Penulis artikel ini berbagi pengalaman pribadinya menjalani isolasi mandiri dan langkah-langkah pertolongan pertama yang dilakukannya, serta gejala-gejala yang dialami.
Assalamualaikum Dear pembaca setia Skincapedia.com. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan penuh semangat. Artikel kali ini akan membahas pengalaman pribadi penulis yang dinyatakan positif COVID-19 dan menjalani masa karantina di rumah.
|
|
| Virus Covid-19 scientificanimation.com |
Penulis dan suaminya dinyatakan positif COVID-19 pada periode Desember dan menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Awalnya, gejala yang muncul hanya seperti demam biasa, namun kemudian berkembang menjadi gejala khas COVID-19. Setelah suami melakukan Swab PCR dan dinyatakan positif, penulis pun mulai curiga terhadap kondisinya sendiri, meskipun tidak segera melakukan tes karena pertimbangan biaya.
Berikut adalah 11 pertolongan pertama yang dilakukan penulis dan suami saat curiga positif COVID-19:
11 Pertolongan Pertama Positif Covid
1. Konsumsi Vit C dan Zinc
Sesuai anjuran dokter, penulis mengonsumsi tablet/kapsul Vitamin C 500mg sebanyak dua kali sehari selama lima hari pertama, dilanjutkan dengan satu kapsul per hari. Selain itu, dikonsumsi juga Zinc Sulfate Heptahydrate sebanyak 2 kali sehari. Vitamin C dan Zinc sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jika menggunakan Zinc Monohydrate, dosisnya adalah 3 kali sehari. Penambahan suplemen Vitamin E juga disarankan.
2. Antibiotik
Meskipun antibiotik tidak efektif melawan virus, penggunaannya penting untuk mencegah infeksi sekunder. Selama tubuh diserang virus COVID-19, bakteri oportunistik dapat ikut menyerang, yang dapat memperburuk kondisi. Antibiotik dikonsumsi satu kali sehari pada jam yang sama dan harus dihabiskan.
3. Parasetamol
Gejala COVID-19 bisa beragam, termasuk demam naik turun, sakit kepala hebat, dan nyeri sendi. Parasetamol berperan penting dalam meredakan gejala-gejala tersebut.
4. Obat Kumur Antiseptic
Dokter menganjurkan penggunaan obat kumur Betadine yang mengandung povidone iodine 1% sebanyak 3-5 kali sehari. Selain itu, disarankan pula membersihkan hidung dengan cotton bud yang dicelupkan ke dalam Betadine obat kumur. Hal ini bertujuan untuk menghambat penyebaran virus yang umumnya masuk melalui hidung dan mencegahnya masuk ke paru-paru.
5. Obat Batuk
Batuk kering dan tenggorokan gatal adalah gejala umum COVID-19 yang dapat mengganggu istirahat. Obat batuk membantu meredakan gejala ini, karena penanganan penyakit akibat virus lebih berfokus pada gejala yang timbul.
6. Minyak Kayu Putih
Menurut artikel Dr. Idrianti Sp.KK, minyak kayu putih memiliki manfaat menghambat replika virus. Sifat antibakteri, antijamur, dan kemampuannya menginaktivasi virus airborne menjadikannya bermanfaat. Kandungan 1,8 cineol berfungsi sebagai antiinflamasi, sementara kandungan eucaliptus bertindak sebagai ekspektoran, mukolitik, dan dekongestan.
Cara pakai:
- Balurkan minyak kayu putih ke dada, perut, dan punggung.
- Letakkan sedikit minyak kayu putih di tengah lidah, lakukan 3-4 kali sehari.
- Campurkan 1 tetes minyak kayu putih ke dalam teh hangat, minum 2-3 kali sehari.
7. Obat Herbal
Obat herbal seperti rebusan jahe, kunir, sereh, dan jeruk lemon, serta madu, bawang hitam, dan susu kambing, juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi gejala. Dosis dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
8. Peppermint Essential Oil
Peppermint Essential Oil menjadi andalan penulis saat flu dan batuk. Menghirup uap air hangat yang dicampur peppermint dapat melegakan hidung tersumbat dan tenggorokan yang gatal. Minyak ini bersifat antibakteri, antijamur, dan antivirus, yang diharapkan dapat menghambat penyebaran virus di hidung dan tenggorokan. Pengalaman penulis menunjukkan efektivitasnya dalam mencegah flu dan meredakan batuk, sehingga membantu tidur nyenyak.
Penting untuk memastikan minyak peppermint yang digunakan adalah 100% Essential Oil.
9. Istirahat Cukup dan Makan Bergizi
Tidur minimal 8 jam sehari sangat penting untuk pemulihan tubuh. Meskipun mungkin timbul rasa bosan atau kekhawatiran akan pekerjaan, istirahat yang cukup dan asupan makanan bergizi dapat membantu memulihkan kondisi fisik. Selain itu, dengan tetap berada di rumah, kita juga turut melindungi orang lain dari penularan.
10. Berjemur
Berjemur di pagi hari antara pukul 8-10 selama kurang lebih 15 menit, dengan sinar matahari langsung mengenai punggung, diyakini bermanfaat.
11. Tetap Lakukan Protokol Kesehatan
Meskipun sedang isolasi mandiri, tetap patuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hindari keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak seperti membeli obat atau kebutuhan pokok.
Penulis menekankan bahwa COVID-19 tidak boleh dianggap enteng. Keterlambatan penanganan akibat tidak menyadari gejala sejak awal dapat berakibat fatal, terutama bagi individu dengan fisik yang kurang kuat.
Gejala COVID yang Dialami Penulis dan Suami
1. Demam 38 derajat
Awalnya dianggap demam biasa karena tidak terlalu tinggi. Penulis mengingatkan untuk tidak meremehkan gejala demam dan segera mengambil tindakan pencegahan.
2. Hilang Indra Perasa dan Penciuman
Gejala ini muncul setelah beberapa hari dan menjadi penanda kuat COVID-19. Berbeda dengan flu biasa, hidung tidak tersumbat namun indra perasa dan penciuman hilang total. Penulis mengimbau untuk waspada jika muncul tanda-tanda ini.
3. Pusing dan Nyeri Sendi
Gejala ini hanya dialami oleh suami, bersifat timbul tenggelam.
4. Batuk Kering
Ditandai dengan tenggorokan yang terasa sangat gatal dan batuk tanpa dahak, terutama di malam hari.
5. Sakit Perut
Gejala ini hanya dialami oleh penulis, berupa mual dan muntah setiap kali makan, kemungkinan karena asam lambung naik. Penulis mengonsumsi air tajin, buah pisang, dan alpukat untuk meredakan gejala ini. Syukurlah, gejala ini hanya berlangsung satu hari.
6. Tidak Mengalami Sesak Nafas
Meskipun sesak napas adalah gejala umum COVID-19, penulis bersyukur tidak mengalaminya. Gejala ini mengindikasikan virus menyerang paru-paru, dan pemantauan saturasi oksigen dengan oximeter sangat penting. Jika saturasi di bawah 95%, penanganan segera diperlukan.
Alhamdulillah, berkat kondisi fisik yang kuat, penulis dan suami dapat sembuh dengan isolasi mandiri di rumah tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Suami dinyatakan negatif setelah beberapa waktu, sementara penulis mengalami kehilangan indra penciuman dan perasa selama seminggu, dan suami lebih dari dua minggu.
Penulis menyimpulkan bahwa gejala COVID-19 dapat bervariasi tergantung imunitas tubuh. Namun, demam, batuk, dan hilangnya indra penciuman serta perasa adalah gejala yang paling umum. Penting untuk segera mengambil tindakan pencegahan agar virus tidak menyerang paru-paru dan tidak menular ke orang lain.
Informasi Penting Terkait Covid yang Didapat dari Grup WA
Perbedaan Rapid Test, Swab Antigen, dan Swab PCR
Artikel ini juga menyertakan informasi mengenai perbedaan antara Rapid Test (Antigen dan Antibodi), Swab Antigen, dan Swab PCR. Rapid Test Antibodi mendeteksi Imunoglobulin (IgM dan IgG) yang terbentuk sebagai respon kekebalan tubuh. IgM adalah respon awal, sementara IgG adalah respon lanjutan yang bertahan lebih lama. Swab Antigen mendeteksi bagian tubuh kuman atau virus, sedangkan Swab PCR mendeteksi DNA virus COVID-19.
Rapid Test Antibodi dan Swab Antigen tidak dapat dijadikan acuan diagnosis COVID-19 karena tidak spesifik untuk virus corona jenis Betacorona yang menyebabkan COVID-19. Hanya Swab PCR yang dianggap sebagai dasar diagnosis COVID-19 karena kemampuannya mendeteksi DNA Betacorona.
Penjelasan mengenai Cycle Threshold (CT) dalam Swab PCR juga diberikan, di mana nilai CT yang rendah menunjukkan jumlah virus yang banyak, dan nilai CT yang tinggi menunjukkan jumlah virus yang sedikit.
Artikel ini juga merinci interpretasi hasil kombinasi Rapid Test dan PCR, serta menjelaskan konsep Terapi Plasma Konvalesen.


Jangan Tunggu Hari ke-7
Pesan penting disampaikan agar tidak menunggu hingga muncul demam tinggi dan batuk parah sebelum bertindak. Penting untuk mengenali gejala sejak dini, bahkan sejak hari pertama virus masuk ke tubuh, untuk mencegah perparahan penyakit. Gejala awal yang ringan seringkali terabaikan.
Artikel ini memaparkan perkiraan gejala COVID-19 berdasarkan hari:
- Hari ke 1-3: Gejala ringan seperti masuk angin, tenggorokan sedikit sakit, makan minum normal.
- Hari ke 4: Sakit kepala ringan, badan sedikit hangat, tenggorokan sakit ringan, suara serak, selera makan terganggu, indra perasa/penciuman hilang, sedikit diare ringan.
- Hari ke 5: Sakit tenggorokan, suara serak, badan meriang, suhu 36.5-36.7°C, badan lelah, sakit, nyeri jari dan persendian.
- Hari ke 6: Demam ringan (sekitar 37°C), batuk kering atau sedikit berlendir, sesekali susah bernapas, sakit tenggorokan saat bicara, sakit saat makan dan menelan, mual, mungkin muntah, ada diare.
- Hari ke 7: Demam agak tinggi (37.4-37.8°C), batuk lebih banyak dan berdahak, napas pendek, sakit kepala dan berat, nyeri seluruh tubuh, diare bertambah.
- Hari ke 8: Demam tinggi (38°C atau lebih), sulit bernapas, dada berat, sakit kepala, punggung, dan sendi, batuk terus menerus, sulit berbicara.
- Hari ke 9: Gejala tidak berubah, batuk bertambah parah, demam tidak teratur, napas semakin sulit, pencegahan sudah tidak mungkin, perlu penanganan intensif.
Jika waspada sejak hari ke 1-3, meningkatkan daya tahan tubuh dengan vitamin dan segera mengisolasi diri dapat membantu mencegah penyakit menjadi parah.
Perbedaan gejala juga dijelaskan untuk membedakan COVID-19 dari polusi udara, flu biasa, dan flu:
- Batuk kering + Bersin = Polusi udara.
- Batuk + Lendir + Bersin + Pilek = Pilek biasa.
- Batuk + Lendir + Bersin + Pilek + Sakit tubuh + Kelemahan + Demam ringan = Flu.
- Batuk kering + Bersin + Nyeri tubuh + Kelemahan + Demam tinggi + Kesulitan bernapas + Hilangnya indra pengecap dan perasa = Corona virus.
Perlengkapan Medis COVID yang Diperlukan di Rumah
Daftar perlengkapan medis yang direkomendasikan untuk dimiliki di rumah antara lain:
- Parasetamol
- Betadine obat kumur
- Vitamin C dan D3
- Minyak kayu putih
- Vitamin B kompleks
- Kapsul untuk uap
- Oximeter
- Tabung oksigen (untuk keadaan darurat)
- Alat latihan pernapasan
Artikel ini juga membagi COVID-19 menjadi tiga tahap:
- COVID-19 di hidung: Pemulihan setengah hari, biasanya tanpa demam, asimtomatik.
- Tertular di tenggorokan: Radang tenggorokan, pemulihan 1 hari.
- Timbul di paru-paru: Batuk dan sesak napas selama 4-5 hari, memerlukan penanganan lebih serius.
Tahapan kapan harus mendekati rumah sakit adalah ketika tingkat oksigen di bawah 92%. Pemantauan saturasi oksigen dengan oximeter sangat penting.
Saran dari pasien isolasi RS yang bisa dilakukan di rumah meliputi:
- Minum Vitamin C-1000 dan Vitamin E.
- Berjemur di sinar matahari selama 15-20 menit antara pukul 10-11.
- Makan telur seminggu sekali.
- Tidur minimal 7-8 jam.
- Minum 1,5 liter air setiap hari.
- Semua makanan harus hangat.
Perhatian juga diberikan pada pH virus Corona yang berkisar antara 5,5 hingga 8,5. Mengonsumsi makanan bersifat basa di atas tingkat keasaman virus, seperti pisang, lemon, alpukat, bawang putih, mangga, dan nanas, disarankan untuk membantu membasmi virus.
Gejala infeksi virus corona yang perlu diwaspadai adalah tenggorokan gatal, tenggorokan kering, batuk kering, temperatur tinggi, sesak napas, dan kehilangan penciuman. Lemon dengan air hangat disebut dapat membantu menghilangkan virus di awal sebelum mencapai paru-paru.
Pesan ini diharapkan dapat bermanfaat dan disebarluaskan agar semakin banyak orang yang

