Home » Psikolog Ungkap 5 Sifat Kepribadian Orang yang Suka Tertawa di Situasi Sulit

Psikolog Ungkap 5 Sifat Kepribadian Orang yang Suka Tertawa di Situasi Sulit

Skincapedia.com – Pernahkah Anda mendapati diri sendiri sulit menahan tawa saat berada dalam situasi yang seharusnya serius? Entah itu ketika rapat penting dengan petinggi perusahaan, atau bahkan saat berinteraksi santai melalui pesan teks yang diakhiri dengan “hahaha” atau “wkwkwk”.

Fenomena ini mungkin menimbulkan pertanyaan: apakah hal tersebut wajar dan apa artinya bagi kepribadian seseorang?

Meskipun terkadang terkesan kurang pantas, tertawa dalam momen serius ternyata memiliki dasar psikologis yang kuat. Salah satu alasannya adalah sebagai mekanisme pelepasan rasa gugup atau cara untuk menghindari luapan emosi yang lebih menyakitkan.

“Ketika emosi seperti kecemasan, rasa malu, stres, atau ketidaknyamanan menumpuk dalam diri, bercanda atau tertawa dapat membantu mengatur perasaan tersebut dan membuat momen tersebut terasa lebih mudah dikelola,” jelas Dr. Vanessa Pilkington, seorang psikolog, dalam wawancaranya dengan Parade. “Humor dapat menciptakan jarak dari perasaan seperti kesedihan, rasa malu, kemarahan, atau kerentanan, sehingga membuat momen-momen serius terasa kurang berat.”

Lebih lanjut, para ahli psikologi mengidentifikasi beberapa ciri kepribadian khas pada orang yang cenderung tertawa di situasi serius. Mari kita telaah lebih dalam.

Menggunakan Humor sebagai Pengatur Emosi

Sebuah lelucon atau tawa dapat membantu seseorang tetap berfungsi dalam situasi yang sangat berat. Humor membantu mereka untuk mengatur emosi yang sedang mereka rasakan.

Dalam menghadapi situasi yang sangat berat atau penuh tekanan, humor dan tawa sering kali menjadi alat ampuh bagi sebagian orang untuk tetap berfungsi. Mekanisme ini membantu mereka mengelola emosi yang sedang berkecamuk.

Menurut Dr. Pilkington, tawa atau humor dapat menciptakan semacam jarak psikologis yang memisahkan individu dari perasaan takut, sedih, malu, atau ketegangan yang mungkin melanda.

Menghindari Perasaan Rentan

Bagi sebagian orang, perasaan rentan—baik itu menangis di depan umum, terlibat dalam perselisihan, atau bahkan mengungkapkan emosi terdalam—dapat terasa sangat menakutkan. Akibatnya, mereka cenderung berusaha keras untuk menghindari situasi-situasi yang dapat memicu perasaan tersebut.

“Humor menjadi semacam perisai yang mengalihkan perhatian dari perasaan yang menyakitkan, keintiman, atau kejujuran emosional,” ungkap Dr. Pilkington. Ini adalah cara untuk membangun tembok pertahanan agar emosi negatif tidak terekspos.

Kecerdasan dan Kecepatan Berpikir di Bawah Tekanan

Humor membutuhkan tingkat kecerdasan, kecepatan, dan kecakapan tertentu. Bagi sebagian orang, mereka lebih mudah mengeluarkan lelucon daripada harus menunjukkan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.

Kemampuan menciptakan humor secara spontan, terutama di bawah tekanan, membutuhkan tingkat kecerdasan, kecepatan berpikir, dan ketangkasan mental yang cukup tinggi. Bagi individu dengan ciri ini, melontarkan lelucon seringkali terasa lebih mudah dan aman daripada harus mengekspresikan emosi yang sebenarnya mereka rasakan.

Dalam momen-momen serius dan penuh tekanan, mereka secara otomatis mengaktifkan kemampuan berpikir cepat untuk merangkai lelucon yang dapat memecah ketegangan dan bahkan membuat diri mereka sendiri tertawa.

“Dalam momen-momen menegangkan, beberapa orang secara alami beralih ke kecerdasan atau ketangkasan karena berpikir terasa lebih aman dan lebih mudah dikelola daripada merasakan,” jelas Dr. Pilkington. Ini menunjukkan preferensi untuk mengendalikan situasi melalui nalar daripada membiarkan emosi mengambil alih.

Kekhawatiran akan Kehilangan Kendali Emosi

Orang yang suka tertawa di situasi serius takut jika mereka kehildangan kendali atas emosi dan dirinya. Oleh karena itu, mereka lebih memilih memendam emosinya dan memilih humor sebagai jalan keluar.

Ketakutan mendasar yang mendorong sebagian orang untuk tertawa di situasi serius adalah kekhawatiran akan kehilangan kendali atas emosi dan diri mereka sendiri. Ketika dilanda kesedihan, mereka mungkin cemas akan menangis tak terkendali. Sebaliknya, saat marah, ada ketakutan bahwa emosi tersebut bisa meledak dalam bentuk teriakan atau tindakan impulsif lainnya.

Oleh karena itu, jalan keluar yang dipilih adalah memendam emosi tersebut dan mengalihkannya melalui humor. Ini adalah strategi untuk menjaga ketenangan batin.

“Tertawa atau bercanda dapat mencegah menangis, marah, panik, atau menutup diri,” kata Dr. Pilkington. “Humor dapat berfungsi sebagai cara untuk menjaga ketenangan ketika emosi terasa terlalu kuat atau asing.”

Indikasi Empati yang Tinggi

Situasi serius seringkali dipenuhi dengan rasa berat, ketegangan, dan ketidaknyamanan yang dapat memengaruhi semua orang yang terlibat. Menariknya, orang yang cenderung tertawa dalam momen-momen seperti ini ternyata seringkali memiliki tingkat empati yang tinggi.

Mereka mampu merasakan dan menyerap emosi orang lain yang hadir dalam situasi penuh tekanan tersebut. Sebagai respons, mereka berusaha menciptakan suasana yang lebih tenang dan nyaman bagi semua orang, termasuk diri mereka sendiri, dengan cara melontarkan candaan.

“Orang dengan tingkat empati tinggi terkadang menggunakan tawa untuk mengurangi atau mengimbangi beban yang mereka rasakan karena menyerap emosi begitu dalam,” ungkap Dr. Pilkington. Ini menunjukkan bahwa humor mereka bukan sekadar pelarian, melainkan juga bentuk kepedulian dan upaya meredakan ketegangan kolektif.

Artikel menarik Lainnya