Skincapedia.com – Istilah “high class” sering kali diasosiasikan dengan kekayaan materi dan status sosial yang tinggi. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Menurut psikolog Dr. Noëlle Santorelli, PhD, predikat “high class” lebih merujuk pada perilaku seseorang yang menunjukkan kehalusan dalam tutur kata, tata krama, dan cara membawa diri.
Dr. Santorelli menjelaskan bahwa seseorang dapat dianggap “high class” terlepas dari latar belakang finansial atau sosialnya, apabila mereka menunjukkan keanggunan dalam situasi sulit, memperlakukan orang lain dengan hormat, dan memancarkan kepercayaan diri yang tenang. Selain itu, pemilihan kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari juga menjadi indikator penting.
Orang yang dianggap “kelas atas” cenderung berbicara dengan tenang dan terkendali, tidak terburu-buru atau mudah bereaksi. Mereka kerap menggunakan bahasa yang tidak langsung, sopan, dan ramah, serta menghindari penggunaan bahasa gaul atau kata-kata kasar. Ucapan mereka terdengar percaya diri tanpa perlu pembuktian diri yang berlebihan, mencerminkan keyakinan diri yang kuat.
Lantas, kalimat-kalimat apa saja yang kerap diucapkan oleh individu yang masuk dalam kategori “high class” ini? Berikut adalah beberapa di antaranya, berdasarkan rangkuman dari Parade.
“Saya Sangat Menghargai Waktumu”

Pepatah “waktu adalah uang” sering kali menjadi pegangan banyak orang dalam menjalani kehidupan. Bagi individu yang dianggap “high class”, pemahaman akan berharganya waktu ini sangat mendalam.
Mereka menyadari bahwa waktu adalah aset yang tak ternilai. Oleh karena itu, ketika seseorang meluangkan waktu untuk bertemu atau berinteraksi dengan mereka, ungkapan terima kasih atas waktu tersebut akan selalu terucap.
“Mengucapkan kalimat ini membuat orang lain merasa dihargai dan tidak diremehkan, sehingga meningkatkan kemungkinan permintaan Anda akan dipenuhi,” ujar Dr. Santorelli.
Namun, psikolog klinis Dr. Cynthia Shaw mengingatkan bahwa ketulusan dalam mengucapkan kalimat ini sangatlah penting. Ungkapan tersebut bisa saja terdengar seperti basa-basi semata jika tidak diucapkan dengan sungguh-sungguh.
“Senang Sekali Bertemu denganmu”

Dr. Shaw mengamati bahwa individu “high class” cenderung memberikan perhatian khusus pada awal dan akhir sebuah interaksi sosial. Hal ini beralasan, karena kedua momen tersebut paling membekas dalam ingatan orang lain dan sangat memengaruhi persepsi mereka terhadap Anda.
Fenomena psikologis yang dikenal sebagai “Peak-end Rule” menjelaskan hal ini. Aturan tersebut menyatakan bahwa puncak emosi dan akhir dari suatu peristiwa memiliki dampak terbesar pada ingatan dan perasaan seseorang terhadap pengalaman tersebut.
“Ungkapan ‘Senang bertemu denganmu’ menunjukkan keramahan dan kemudahan didekati tanpa perlu bertele-tele,” jelas Dr. Santorelli.
“Terima Kasih”

Meskipun terdengar sederhana, ucapan “terima kasih” memiliki kekuatan yang luar biasa dalam memberikan kesan positif.
Dr. Shaw menekankan bahwa sopan santun adalah salah satu ciri khas orang “high class”. Mereka terbiasa mengucapkan “terima kasih” sebagai bentuk apresiasi atas permintaan, pujian, bantuan, atau layanan yang diterima. Ucapan sederhana ini efektif dalam menyampaikan rasa syukur, keramahan, dan kesantunan.
“Saya Mengerti Maksudmu, dan Saya Pikir…”

Bagaimana orang “high class” menyikapi perbedaan pendapat? Alih-alih langsung menyatakan “Itu salah”, mereka akan berusaha memahami sudut pandang lawan bicara terlebih dahulu. Frasa seperti “Saya mengerti maksudmu, dan saya pikir…” menjadi jembatan untuk menyampaikan pandangan yang berbeda.
“Meskipun Anda bersikap sopan, bukan berarti Anda harus selalu setuju dengan apa yang dikatakan,” ujar Dr. Shaw.
“Pendekatan ‘menyetujui untuk tidak setuju’, seperti menggunakan kalimat ‘Saya mengerti maksud Anda, dan saya pikir (xyz)’, dapat mendorong dialog yang sehat dan menunjukkan rasa hormat, bahkan ketika berhadapan dengan pandangan yang berlawanan,” tambahnya.
Dr. Santorelli menambahkan bahwa mengakui perspektif yang berbeda sebelum menyampaikan pandangan pribadi menunjukkan empati. Hal ini dapat mencegah lawan bicara merasa defensif ketika Anda menyampaikan sudut pandang yang berlawanan.
“Maafkan Saya”

Menurut Dr. Santorelli, frasa “Maafkan saya” sering digunakan oleh individu “high class” sebagai bentuk permohonan maaf atas ketidaknyamanan atau kesalahan kecil yang mungkin terjadi.
Kalimat ini umumnya diucapkan untuk mengakui tindakan kecil yang keliru. Penggunaannya menunjukkan penerimaan tanggung jawab tanpa perlu permintaan maaf yang berlebihan atau menciptakan kecanggungan. Susunan kata yang anggun dan fasih dalam ungkapan ini mencerminkan kedewasaan.
Demikianlah beberapa cara mengenali individu yang benar-benar “high class” dari ucapan mereka, menurut pandangan para psikolog. Apakah ada di antara kalimat-kalimat ini yang sudah menjadi bagian dari keseharian Anda?
