Skincapedia.com – Label “high class” kerap kali diasosiasikan dengan kekayaan melimpah, jabatan prestisius, atau kepemilikan kendaraan mewah. Namun, benarkah definisi kelas atas semata-mata terukur dari materi dan kedudukan? Bagaimana sesungguhnya cara mengidentifikasi seseorang yang benar-benar menyandang predikat high class?
Menurut psikolog Dr. Noëlle Santorelli, PhD, istilah “high class” atau “kelas atas” tidaklah secara eksklusif ditentukan oleh jumlah harta benda atau tingkatan sosial yang dicapai seseorang. Sebaliknya, konsep ini lebih erat kaitannya dengan perilaku dan sikap individu dalam interaksi sehari-hari. Hal-hal seperti tutur kata yang santun, kepercayaan diri yang terpancar, serta perlakuan yang penuh kebaikan terhadap sesama, menjadi indikator utama.
Untuk membantu Anda mengenali ciri-ciri orang high class dari perspektif sikap mereka dalam keseharian, mari kita bedah lebih lanjut berdasarkan pandangan para ahli yang dirangkum dari Your Tango.
Tepat Waktu: Menghargai Waktu, Menghargai Orang Lain

Salah satu indikator kuat dari seseorang yang memiliki kelas adalah bagaimana mereka memperlakukan waktu. Orang high class sangat memahami nilai fundamental dari waktu; mereka sadar bahwa setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati agar tidak menyia-nyiakannya.
Psikolog klinis Dr. Julie Jarett Marcuse menjelaskan bahwa kebiasaan terlambat sering kali diinterpretasikan sebagai bentuk kurangnya rasa hormat kepada orang lain. Ketika seseorang tidak mampu hadir tepat waktu, hal itu dapat menimbulkan pertanyaan di benak orang lain, apakah kehadiran mereka dalam sebuah janji benar-benar diinginkan atau tidak.
Oleh karena itu, ketepatan waktu menjadi salah satu wujud nyata penghormatan yang ditunjukkan oleh individu high class. Sekalipun memiliki jadwal yang padat dan kesibukan yang luar biasa, mereka akan berusaha keras untuk mengelola waktu mereka sedemikian rupa agar tidak membuat orang lain harus menunggu.
Berusaha Membuat Orang Lain Merasa Diterima dan Terlibat

Pernahkah Anda berada dalam situasi sosial yang terasa canggung, di mana semua orang tampak asyik dalam percakapan, namun Anda merasa terpinggirkan karena tidak dilibatkan? Perasaan tersisih dan tidak dihargai ini tentu sangat tidak menyenangkan.
Dr. Dreher, seorang psikolog positif, mengemukakan bahwa cara pandang kognitif seseorang sangatlah mencakup diri mereka sendiri. Ketika seseorang menunjukkan sikap yang tidak pantas atau kasar kepada orang lain, pada dasarnya mereka justru sedang merendahkan martabat semua orang, termasuk diri mereka sendiri. Perilaku tersebut merupakan cerminan dari kualitas mental dan harga diri mereka.
Individu high class memiliki penghargaan yang tinggi terhadap diri mereka sendiri, dan prinsip ini juga mereka terapkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka diberkahi dengan tingkat empati yang tinggi, yang mendorong mereka untuk secara proaktif memastikan orang lain merasa dihargai dan dilibatkan dalam setiap interaksi.
Mereka memiliki kepekaan untuk mengenali ketika ada seseorang yang tampak berdiri sendiri atau tidak ikut serta dalam percakapan. Dengan sigap, mereka akan menghampiri, menyapa, dan secara sengaja mengajak orang tersebut bergabung dalam obrolan, sehingga orang tersebut merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok.
Menolak Terlibat dalam Gosip

Dalam berbagai pertemuan sosial, tidak jarang kita jumpai sebagian orang yang dengan mudah mengalihkan pembicaraan ke arah gosip. Namun, individu high class memiliki keteguhan prinsip yang kuat; mereka tidak akan goyah dan tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa bergosip tentang orang lain bukanlah tindakan yang patut dilakukan.
Meskipun bergosip terkadang terlihat ringan dan bahkan menyenangkan, namun pada akhirnya, tindakan ini hanya akan menyisakan dampak negatif. Terapis Hannah Rose, LCPC, menjelaskan bahwa ketika kita bergosip, sebenarnya kita sedang “mengisi” pikiran kita dengan “racun” dan prasangka negatif terhadap orang lain.
“Kita cenderung lebih kritis terhadap diri sendiri ketika kita terlalu sibuk mengkritik orang lain,” ujar Rose.
Inilah alasan mendasar mengapa orang high class sebisa mungkin menghindari keterlibatan dalam gosip, baik dalam percakapan santai maupun dalam forum yang lebih besar. Bagi mereka, gosip tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga membawa dampak buruk bagi diri sendiri.
Menjadi pribadi yang high class sejatinya terletak pada bagaimana kita menampilkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara kita memperlakukan orang lain. Dari ketiga ciri sikap di atas, adakah yang secara konsisten Anda tunjukkan dalam keseharian?
