Home » Indonesia Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem Seperti Eropa? Penjelasan BMKG

Indonesia Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem Seperti Eropa? Penjelasan BMKG

Skincapedia.com – Benua Eropa saat ini tengah menghadapi ancaman serius berupa gelombang panas ekstrem atau heatwave yang telah memicu lebih dari 1.300 kematian di berbagai negara sejak 21 Juni, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Suhu udara di beberapa negara Eropa dilaporkan mencapai angka mengkhawatirkan. Pada Minggu (28/6), Jerman, Republik Ceko, dan Polandia mencatat suhu hingga 40 derajat Celsius, yang berdampak signifikan pada kelancaran sistem transportasi di sana. Prancis bahkan mengalami suhu tertinggi yang sempat menyentuh 44 derajat Celsius.

Fenomena cuaca ekstrem ini dipicu oleh apa yang disebut sebagai “kubah panas” atau heat dome. Ini adalah area tekanan tinggi yang sangat luas yang menjebak udara panas di sebagian besar wilayah Eropa Barat. Udara yang turun di area ini terkompresi dan memanas, sekaligus menghalangi pembentukan awan. Fenomena ini sering kali diperparah oleh pola cuaca omega block, yang membuat sistem udara panas tersebut bertahan di satu wilayah selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Garyfallos Konstantinoudis, seorang dosen di Grantham Institute – Climate Change and the Environment, menegaskan bahwa gelombang panas merupakan ancaman kesehatan yang serius. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas (heatstroke) yang merupakan kondisi darurat medis.

Serangan panas adalah kondisi medis serius yang terjadi ketika suhu inti tubuh melonjak di atas 40 derajat Celsius akibat ketidakmampuan tubuh untuk mendinginkan diri secara efektif. Gejalanya meliputi suhu tubuh sangat tinggi, kebingungan, kehilangan kesadaran, detak jantung dan pernapasan yang cepat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung pada kegagalan organ atau bahkan kematian.

Lebih lanjut, stres akibat panas ekstrem dapat memicu kejadian fatal seperti serangan jantung, stroke, dan gagal napas. Kelompok rentan, seperti lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap pendinginan atau hidrasi, menjadi pihak yang paling berisiko.

Gelombang Panas di Eropa, Bagaimana dengan Indonesia?

Eropa Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Bagaimana dengan Indonesia? Ini Kata BMKG

Gelombang panas yang melanda Eropa saat ini menjadi pengingat nyata akan ancaman krisis iklim yang semakin mendesak. Pertanyaannya, bagaimana kondisi Indonesia dalam menghadapi potensi serupa?

Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena gelombang panas dalam pengertian teknis jarang terjadi di Indonesia. Gelombang panas umumnya dialami oleh negara-negara di lintang menengah-tinggi, di mana udara panas terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas.

Berbeda dengan Eropa, Indonesia terletak di wilayah ekuator yang memiliki karakteristik variabilitas cuaca cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda. BMKG menjelaskan bahwa yang umumnya terjadi di Indonesia hanyalah peningkatan suhu panas harian, terutama saat musim kemarau, yang disebabkan oleh cuaca cerah dan minimnya tutupan awan di siang hari.

Namun, jika anomali iklim ekstrem memaksa suhu yang sangat tinggi terjadi di Indonesia, dampaknya bisa diperparah oleh faktor kelembapan yang tinggi. Kelembapan berperan sebagai “pengali” tingkat bahaya suhu udara, menciptakan indeks panas yang terasa jauh lebih menyengat. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memiliki tingkat kelembapan alami yang tinggi. Kelembapan ini menghambat penguapan keringat dari kulit, padahal penguapan keringat adalah mekanisme utama tubuh untuk mendinginkan diri.

Kondisi cuaca yang sangat panas dan lembap secara bersamaan akan meningkatkan risiko kelelahan panas dan heatstroke secara drastis, meskipun suhu absolutnya mungkin tidak mencapai angka 40°C seperti yang terjadi di Eropa.

Langkah yang Diusulkan UNEP dan BMKG

Gelombang Panas di China/Foto: Freepik

BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi puncak musim kemarau dan potensi fenomena El Niño, guna memastikan ketersediaan pasokan air. Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologisnya bisa serupa dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa, namun dengan konsekuensi tropis yang khas.

Misalnya, Amerika Serikat bagian Barat saat ini tengah berjuang melawan kebakaran hutan masif yang melalap jutaan hektar lahan akibat kondisi yang kering dan berangin. Suhu tinggi juga berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan lahan gambut yang sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar.

Di sektor kelautan, kenaikan suhu perairan ekuator berisiko memicu fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal, yang mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang.

Program Lingkungan PBB (UNEP) menyarankan agar negara-negara tidak terlalu bergantung pada pendingin ruangan (AC) konvensional. Penggunaan AC yang masif tidak hanya mengonsumsi banyak energi, tetapi juga menggunakan gas refrigeran yang justru memperparah pemanasan global.

Sebagai alternatif, UNEP mengusulkan solusi seperti memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang-ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang dirancang untuk mereduksi panas. Sementara itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.

Artikel menarik Lainnya