Skincapedia.com – Keberadaan tikus di lingkungan sekitar belakangan ini kembali menjadi sorotan, terutama setelah kasus hantavirus menarik perhatian publik. Banyak orang mulai menyadari bahwa tikus bukan sekadar hama yang merusak kebersihan rumah, melainkan juga dapat menjadi vektor berbagai penyakit serius yang menular kepada manusia.
Menurut berbagai sumber kesehatan, penularan penyakit dari tikus dapat terjadi melalui berbagai jalur, termasuk urine, kotoran, air liur, gigitan, hingga kontaminasi pada makanan. Beberapa penyakit yang ditularkan tikus bahkan berpotensi menyebabkan komplikasi serius jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Selain hantavirus yang sudah dikenal, terdapat beberapa penyakit lain yang juga dapat ditularkan oleh tikus dan patut untuk diwaspadai demi menjaga kesehatan.
Leptospirosis

Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang erat kaitannya dengan keberadaan tikus. Penyakit ini umumnya menular ketika seseorang terpapar urine tikus atau air yang telah terkontaminasi oleh bakteri leptospira.
Karena bakteri leptospira mampu bertahan di lingkungan yang lembab dan tergenang air, risiko penularannya cenderung meningkat saat musim hujan atau pasca banjir. Kondisi ini menjelaskan mengapa leptospirosis sering ditemukan di daerah dengan tingkat sanitasi yang kurang memadai.
Gejala khas leptospirosis meliputi demam, nyeri pada otot, sakit kepala, hingga perubahan warna kulit dan mata menjadi menguning. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan fungsi ginjal atau hati apabila tidak segera ditangani secara medis.
Oleh karena itu, bagi Anda yang sering beraktivitas di area rawan banjir atau lingkungan yang kerap dihuni tikus, sangat disarankan untuk selalu menggunakan alas kaki yang memadai dan menjaga kebersihan diri setelah beraktivitas.
Salmonellosis

Baca juga: Mata Uang Terlemah di Dunia: Perkiraan 2026
Selain leptospirosis, tikus juga berpotensi menjadi carrier bakteri salmonella, yang dapat membahayakan sistem pencernaan manusia. Bakteri ini biasanya menyebar melalui makanan atau permukaan yang telah terkontaminasi.
Apabila makanan dibiarkan terbuka di area yang sering dilalui tikus, risiko penyebaran bakteri salmonella tentu akan semakin besar. Oleh karena itu, praktik penyimpanan makanan yang bersih dan tertutup rapat menjadi sangat krusial untuk mencegah kontaminasi.
Gejala salmonellosis umumnya meliputi diare, muntah, demam, dan kram perut yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada beberapa kasus, gejala ini bahkan dapat berlangsung selama beberapa hari.
Untuk meminimalkan risiko, sangat disarankan untuk rutin membersihkan area dapur dan tidak membiarkan sisa makanan terbuka dalam waktu yang lama. Langkah pencegahan sederhana ini ternyata sangat efektif dalam mengurangi potensi penularan penyakit akibat tikus.
Pes atau Plague

Pes atau plague adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini umumnya ditularkan melalui gigitan kutu yang sebelumnya telah mengisap darah tikus atau hewan pengerat lain yang terinfeksi.
Salah satu bentuk pes yang paling dikenal adalah bubonic plague atau pes bubonik. Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, demam tinggi, serta gejala mirip flu yang berkembang dengan cepat.
Meskipun kasus pes saat ini tergolong jarang, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa masih ada rata-rata sekitar tujuh kasus pes setiap tahunnya di Amerika Serikat. Oleh karena itu, penyakit ini tidak boleh dianggap remeh. Tanpa penanganan medis yang cepat dan tepat, pes dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Rat-Bite Fever

Rat-bite fever atau demam akibat gigitan tikus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang terdapat dalam air liur tikus. Penularan penyakit ini biasanya terjadi setelah seseorang mengalami gigitan atau cakaran dari tikus yang terinfeksi.
Meskipun gejalanya mungkin terlihat ringan pada awalnya, penyakit ini berpotensi berkembang menjadi serius jika tidak segera ditangani. Luka akibat gigitan tikus sebaiknya segera dibersihkan dengan baik dan diperiksakan ke tenaga medis profesional.
Gejala rat-bite fever meliputi demam, muntah, nyeri otot, dan munculnya ruam pada kulit. Dalam kasus yang lebih parah, komplikasi penyakit ini bahkan dapat memengaruhi organ vital seperti jantung, otak, dan paru-paru.
Jika Anda pernah mengalami gigitan tikus, sangat disarankan untuk tidak menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan diri ke dokter. Penanganan medis yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik dalam mencegah potensi komplikasi serius.
Lymphocytic Choriomeningitis Virus (LCMV)

LCMV atau Lymphocytic Choriomeningitis Virus adalah infeksi virus yang dapat menular melalui paparan urine, kotoran, atau air liur tikus. Banyak orang tidak menyadari infeksi ini karena gejalanya seringkali terlihat ringan pada tahap awal.
Sebagian penderita hanya mengalami gejala yang menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas. Namun, pada kasus tertentu, infeksi ini dapat berkembang menjadi meningitis atau peradangan pada otak yang berpotensi serius. Ibu hamil juga perlu memberikan perhatian ekstra terhadap infeksi LCMV karena dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan pada janin.
Keberadaan tikus di lingkungan kita seringkali dianggap sebagai masalah kecil, namun hewan ini sebenarnya mampu membawa berbagai penyakit yang dapat berdampak serius pada kesehatan manusia. Semoga dengan memahami informasi ini, Anda menjadi lebih waspada terhadap potensi penyakit yang ditularkan tikus dan semakin peduli dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
