Home » Tanda Orang yang Menonton True Crime untuk Penyembuhan Diri

Tanda Orang yang Menonton True Crime untuk Penyembuhan Diri

Skincapedia.com – Bagi sebagian orang, dunia kisah kriminal yang kelam terdengar mengerikan. Namun, data yang mengejutkan dari Edison Research mengungkap bahwa mayoritas penonton, sekitar 84 persen, justru mengonsumsi media true crime sebagai sarana relaksasi.

Fenomena ini bukan tanpa penjelasan ilmiah. Neuropsikolog forensik Dr. Richard Lettieri, Ph.D., dalam sebuah artikel di Psychology Today, mengemukakan bahwa ketertarikan mendalam terhadap genre ini berakar pada keinginan bawah sadar manusia untuk berhadapan dengan sisi gelap dari kodrat manusia, namun dalam lingkungan yang aman. Menonton true crime memungkinkan individu untuk menjelajahi batas-batas antara kebajikan dan kejahatan tanpa harus mengalami konsekuensi nyata.

Menariknya, jika Anda termasuk dalam kelompok yang menemukan ketenangan atau ‘penyembuhan’ dari kisah-kisah ini, para pakar mengidentifikasi setidaknya enam ciri kepribadian yang mungkin Anda miliki. Mari kita selami lebih dalam.

Suka Memecahkan Masalah yang Rumit

Bagi para penggemar true crime, setiap episode atau cerita adalah layaknya sebuah puzzle yang menantang untuk dipecahkan. Mereka memiliki naluri seorang detektif amatir yang kuat, selalu haus untuk mengungkap kebenaran di balik misteri yang disajikan.

Patricia Bryan, seorang Profesor Hukum dari UNC-Chapel Hill, mendukung pandangan ini. Ia menjelaskan bahwa unsur misteri yang kental dalam narasi true crime secara inheren mendorong penonton untuk menganalisis setiap bukti, mengolah informasi, dan mencoba merangkai sendiri kronologi kejadian yang sebenarnya.

Tantangan ini seringkali menjadi daya tarik utama, di mana mereka berlomba dengan waktu, mencoba menebak identitas pelaku sebelum akhir cerita secara definitif mengungkapkannya.

Mudah Stres dan Cemas

Ironisnya, di balik keseruan yang dirasakan saat menonton, kebiasaan ini juga bisa menjadi cerminan dari tingkat stres dan kecemasan yang relatif tinggi dalam diri seseorang. Dr. Chivonna Childs, Ph.D., seorang psikolog dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa paparan terhadap kisah kriminal yang intens secara terus-menerus dapat memicu kondisi kewaspadaan berlebih atau hypervigilance.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Resting Brain and Individual Differences turut memperkuat korelasi ini, menunjukkan bahwa konsumsi berita negatif, termasuk kisah kriminal, dapat secara signifikan meningkatkan kadar stres. Hal ini juga dapat berdampak pada kesulitan untuk membangun kepercayaan terhadap orang lain dalam interaksi sehari-hari.

Selalu Waspada dan Ingin Merasa Aman

Menariknya, survei menunjukkan bahwa genre true crime memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan perempuan. Hal ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa perempuan secara statistik lebih sering menjadi korban kejahatan.

Dr. Scott Bonn, Ph.D., seorang kriminolog terkemuka, berpendapat bahwa tayangan true crime dimanfaatkan oleh penonton perempuan sebagai strategi untuk mengelola rasa takut alami mereka terhadap potensi bahaya kriminalitas. Dengan menonton, mereka secara proaktif menyerap informasi mengenai taktik bertahan hidup dan belajar mengenali tanda-tanda bahaya yang mungkin ditunjukkan oleh orang asing.

Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk merasa lebih siap, lebih berani, dan lebih mampu menjaga keselamatan diri di dunia nyata.

Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Salah satu ciri kepribadian yang paling menonjol pada penyuka true crime adalah rasa penasaran yang membara terhadap hal-hal yang dianggap tabu, tidak biasa, atau berada di luar batas norma sosial. Mereka didorong oleh keinginan kuat untuk memahami apa yang terjadi di balik kejadian-kejadian mengerikan.

Karakteristik ini juga mencakup keberanian mental untuk menyelami motif dan psikologi di balik tindakan seorang penjahat. Ini adalah eksplorasi terhadap dunia kelam yang sangat kontras dengan realitas kehidupan damai yang mereka jalani sehari-hari.

Cenderung Kurang Pandai Bersosialisasi

Dalam kerangka teori kepribadian Big Five Personality, terdapat dimensi yang dikenal sebagai agreeableness, yang mengukur kecenderungan seseorang untuk bersikap kooperatif dan harmonis dalam interaksi sosial. Sherri Gordon, CLC, seorang life coach profesional, mengamati bahwa pencinta true crime cenderung memiliki tingkat agreeableness yang lebih rendah.

Individu dengan tingkat keharmonisan sosial yang tinggi umumnya akan menghindari konten yang dianggap mengganggu atau tidak menyenangkan. Sebaliknya, mereka yang mungkin sedikit kesulitan dalam bersosialisasi atau merasa kurang nyaman dalam keramaian, justru tidak keberatan untuk menyelami kisah-kisah kriminal yang kelam, karena dirasa lebih sesuai dengan preferensi dan kenyamanan mereka.

Jiwa Empati yang Tinggi

Di balik ketertarikan pada genre yang gelap, para penggemar true crime seringkali memiliki empati yang mendalam. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk terhubung secara emosional dengan para korban, merasakan penderitaan mereka, dan secara kuat menjunjung tinggi nilai keadilan hukum serta moral. Mereka menyaksikan secara langsung berbagai kejahatan keji yang menuntut pertanggungjawaban.

Menariknya, menurut kriminolog Scott Bonn, empati ini terkadang meluas hingga ke upaya memahami pola pikir pelaku. Tujuannya bukan untuk membenarkan tindakan mereka, melainkan untuk mengantisipasi potensi bahaya di dunia nyata. Penulis Doug Kari menambahkan bahwa individu dengan karakteristik ini terbiasa menganalisis kasus dari berbagai perspektif, termasuk mencoba memahami sudut pandang pelaku.

Namun, penting untuk dicatat bahwa konsumsi konten visual kekerasan secara berlebihan dapat memicu peningkatan ringan pada sifat agresif. Hal ini terjadi karena otak mulai menormalisasi konflik dan berpotensi mengurangi kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Meskipun genre ini dapat melatih kewaspadaan, sangat disarankan untuk segera mengambil jeda jika tontonan tersebut mulai mengganggu kualitas tidur Anda atau menimbulkan perasaan tidak aman di rumah sendiri.

Artikel menarik Lainnya