Skincapedia.com – Sarapan seringkali disebut sebagai waktu makan terpenting dalam sehari. Manfaatnya sangat beragam, mulai dari meningkatkan energi dan konsentrasi, memperbaiki suasana hati, mencegah penyakit, hingga membantu mengelola berat badan.
Namun, tidak sedikit orang yang memilih untuk melewatkan sarapan. Berbagai alasan dikemukakan, salah satunya adalah keterbatasan waktu di pagi hari yang membuat mereka terburu-buru menjalani aktivitas.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychiatry menemukan adanya korelasi antara kebiasaan melewatkan sarapan dengan ciri kepribadian tertentu yang berpotensi berdampak negatif pada kesehatan mental.
Berikut adalah tiga ciri kepribadian orang yang cenderung tidak menyukai sarapan, berdasarkan temuan penelitian yang dirangkum dari Your Tango.
Kontrol Diri yang Kurang Baik

Orang yang kerap melewatkan sarapan dilaporkan memiliki kontrol diri yang kurang baik. Kondisi ini berkaitan erat dengan rasa lapar yang dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengatur emosi dan mengendalikan impuls. Akibatnya, mereka cenderung membuat keputusan yang bersifat impulsif, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Penelitian yang diterbitkan dalam Neuropsychopharmacology menjelaskan bahwa ketika tubuh membutuhkan asupan makanan, otak akan merespons dengan produksi hormon ghrelin. Hormon yang dikenal sebagai “hormon lapar” ini memberikan sinyal ke hipotalamus di otak untuk meningkatkan nafsu makan.
Para peneliti menemukan bahwa ghrelin dapat menurunkan kemampuan kontrol impuls apabila rasa lapar tersebut tidak segera dipenuhi. Dalam kondisi sangat lapar, pilihan makanan cenderung jatuh pada opsi yang cepat dan praktis, yang seringkali berarti makanan tidak sehat. Jika kebiasaan ini berlanjut, kurangnya kontrol impuls akibat lapar dapat merembet ke aspek lain dalam keseharian karena fokus utama otak adalah mencari cara untuk mengatasi rasa lapar.
Menunjukkan Gejala Kecemasan

Studi yang dimuat dalam Frontiers in Psychiatry mengindikasikan bahwa individu yang melewatkan sarapan memiliki kecenderungan untuk menunjukkan peningkatan gejala depresi dan kecemasan jika dibandingkan dengan mereka yang rutin sarapan.
Secara spesifik, melewatkan sarapan dikaitkan dengan peningkatan gejala depresi pada kalangan muda. Gangguan kontrol perhatian disebut sebagai salah satu mekanisme penting yang menghubungkan kedua hal ini.
Para penulis studi tersebut menekankan pentingnya kebiasaan sarapan teratur. Mereka berpendapat bahwa mendorong kaum muda untuk membangun rutinitas sarapan dapat menjadi bagian dari intervensi gaya hidup di masa depan untuk penanganan gangguan mental. Hal ini juga perlu lebih ditekankan dalam kebijakan kesehatan masyarakat.
Sulit Produktif

Rasa lapar yang berlebihan dapat menjadi gangguan sekaligus menguras energi. Tanpa pasokan energi yang memadai, kemampuan untuk berkonsentrasi, memproses informasi, bahkan mengingat hal-hal penting akan terhambat. Konsekuensinya, produktivitas seseorang akan menurun.
Sebuah makalah akademis yang diterbitkan pada tahun 2017 berjudul “Food for thought: how nutrition impacts cognition and emotion” mengemukakan bahwa orang yang mengurangi asupan makanan, terlepas dari tujuan penurunan berat badan, akan mengalami kesulitan dalam berfungsi optimal. Hal ini disebabkan oleh defisiensi nutrisi yang krusial untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
