Skincapedia.com – Memiliki persiapan matang untuk setiap langkah meraih cita-cita adalah hal yang lumrah. Namun, pernahkah Anda kerap kali terperosok dalam skenario terburuk, seperti membayangkan pasangan membatalkan pernikahan padahal belum tentu terjadi? Fenomena ini dikenal sebagai catastrophizing, sebuah kecenderungan pikiran untuk membayangkan hal-hal paling buruk.
Dikutip dari berbagai penelitian psikologi, termasuk dari Fletcher, Evans, dan Lonczak, serta informasi dari situs Psych Central, mari kita telaah lebih dalam mengenai catastrophizing.
Apa Itu Catastrophizing?
Sekilas, catastrophizing mungkin terdengar mirip dengan overthinking. Namun, catastrophizing memiliki tingkat ekstrem yang lebih tinggi. Anda mungkin sering kali memikirkan skenario terburuk yang akan terjadi, meskipun kenyataannya hal tersebut sangatlah sepele.
Perilaku ini sering kali muncul sebagai mekanisme pertahanan diri dari berbagai perasaan dan emosi negatif yang mungkin timbul. Beberapa orang menganggapnya sebagai cara untuk menghibur diri sendiri agar tidak terlalu terpuruk, serta untuk menghindari kenyataan pahit dan potensi kegagalan yang harus dihadapi.
Namun, sayangnya, kebiasaan terus-menerus memikirkan skenario terburuk ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental Anda. Jika terus dibiarkan, Anda perlahan-lahan akan mulai meyakini bahwa kegagalan adalah kepastian, merasa tidak kompeten, dan tidak layak untuk meraih tujuan yang Anda impikan.
Ciri-Ciri Catastrophizing

Ketika seseorang mengalami kegagalan dalam satu aspek kehidupan, ia cenderung menganggap bahwa kegagalan serupa akan terulang di situasi lain. Ini menunjukkan bahwa individu tersebut terjebak dalam siklus ketakutan yang diciptakan sendiri, sehingga enggan untuk memulai apa pun demi melindungi diri.
Tanda lain yang terlihat adalah kebiasaan self-talk yang dipenuhi dengan pikiran negatif tentang diri sendiri. Ini bisa jadi indikasi bahwa seseorang terlalu keras dalam mengkritik dirinya sendiri.
Tidak heran jika rasa cemas dan ketidakpercayaan diri kerap kali menyelimuti. Bahkan, Anda mungkin bereaksi berlebihan dengan cara yang tidak sehat hanya karena menduga-duga adanya kemungkinan buruk yang akan terjadi dalam pekerjaan. Contohnya, kemarahan yang muncul karena ketakutan bisnis akan bangkrut dan Anda akan tertinggal jauh dari teman-teman.
Atau, ketika melihat teman sebaya sudah menikah sementara Anda belum, Anda mungkin mengaitkannya dengan pengalaman buruk di masa lalu bersama mantan kekasih, sehingga Anda meyakini bahwa kebahagiaan dalam hubungan percintaan tidak akan pernah Anda dapatkan.
Bahaya yang Akan Muncul

Kebiasaan catastrophizing dapat mendorong Anda untuk menunda-nunda memulai sesuatu. Hal ini terjadi karena Anda sudah terlanjur yakin bahwa Anda pasti akan gagal dalam meraih keinginan Anda.
Dalam berbagai situasi, Anda akan cenderung merasa tidak percaya diri, menganggap diri tidak kompeten dalam bidang apa pun, dan yakin bahwa Anda pasti akan kalah bersaing.
Sebagai contoh, ketika Anda berusaha keras mendapatkan pekerjaan impian. Hanya karena pernah mengalami kegagalan dalam beberapa wawancara kerja atau menerima kritik dari seseorang, Anda memutuskan untuk mengurungkan niat dan tidak mencoba lagi.
Tips Mengatasinya

Salah satu cara efektif adalah dengan membuat daftar khusus yang berisi berbagai kemungkinan secara seimbang. Tuliskan skenario terbaik, skenario terburuk, dan peluang yang mungkin Anda raih dengan situasi atau kondisi Anda saat ini.
Anda juga dapat berbagi cerita dan meminta pendapat dari orang-orang terdekat. Hal ini dapat membantu Anda terbebas dari belenggu pikiran negatif yang terus menghantui.
Daripada terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak pasti, alangkah lebih baik untuk fokus menjalani yang terbaik di momen saat ini. Dengan begitu, energi Anda tidak akan terbuang sia-sia dan Anda dapat merasakan pencapaian serta kemajuan baru.
Tanamkan dalam pikiran bahwa kegagalan di masa lalu bukanlah penentu mutlak masa depan Anda. Jika kebiasaan ini terus mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional. Ini penting agar Anda tidak terjebak dalam self-diagnose.
Selamat mencoba untuk berpikir lebih positif!
