Home » Sisi Gelap Industri Film Korea Selatan yang Jarang Diketahui

Sisi Gelap Industri Film Korea Selatan yang Jarang Diketahui

Skincapedia.com – Industri perfilman Korea Selatan telah menjelma menjadi fenomena global, memukau penonton di seluruh dunia dengan karya-karya berkualitas tinggi. Popularitas luar biasa dari film seperti Parasite dan serial Squid Game menjadi bukti nyata pencapaian ini.

Namun, di balik gemerlap panggung hiburan dan narasi yang memikat, tersimpan sisi-sisi gelap yang jarang tersibak ke permukaan. Masyarakat umum seringkali hanya melihat kilau kesuksesan, tanpa menyadari tantangan dan perjuangan yang dihadapi para pelaku industri ini.

Skincapedia.com telah merangkum beberapa aspek kelam dari industri perfilman Korea Selatan yang mungkin belum banyak diketahui, memberikan gambaran yang lebih utuh tentang realitas di balik layar.

1. Aktor dan Aktris yang Masih Berjuang Mencari Nafkah

Foto Jung Sung-il/ Foto : Instagram/keyeastofficial

Banyak yang mengira bahwa aktor dan aktris Korea Selatan secara otomatis meraih kekayaan dan ketenaran setelah membintangi proyek sukses. Kenyataannya, banyak di antara mereka yang masih harus bekerja paruh waktu demi memenuhi kebutuhan finansial.

Salah satu contoh yang mencuat adalah aktor Jung Sung Il, yang namanya semakin dikenal luas berkat perannya dalam serial The Glory. Sebelum meraih popularitas tersebut, Jung Sung Il telah malang melintang di berbagai drama populer seperti Our Blues, Moonshine, dan Bad and Crazy.

Perjalanan kariernya dimulai dari panggung teater di usia 20-an. Ia bahkan rela berhenti kuliah demi mengejar impian menjadi aktor di Seoul. Selama bertahun-tahun, ia berjuang keras, menjalani berbagai pekerjaan sambilan seperti sopir, petugas parkir, dan pekerja kafe demi menyambung hidup.

Menariknya, Jung Sung Il mengungkapkan bahwa bahkan setelah kesuksesan besar The Glory, ia masih harus melakukan pekerjaan paruh waktu, termasuk sebagai kurir pengiriman barang. Ia menjelaskan bahwa pendapatan royalti dari drama tersebut belum cukup signifikan untuk mengubah kehidupannya secara drastis, dan ia tetap harus mencari sumber penghasilan tambahan.

2. Jam Kerja yang Melebihi Batas Normal

Potret di balik layar serial drama Korea The Penthouse

Industri perfilman Korea Selatan juga dikenal dengan jam kerja yang sangat panjang dan melelahkan. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh para aktor dan aktris, tetapi juga oleh seluruh kru dan staf yang bekerja di balik layar.

Tingginya biaya produksi seringkali mendorong pihak produksi untuk menyelesaikan syuting secepat mungkin. Hal ini berujung pada jadwal yang padat, di mana beberapa episode awal sebuah drama bahkan bisa diselesaikan dalam satu waktu produksi.

Akibatnya, banyak aktor dan aktris yang hanya bisa tidur kurang dari satu jam dalam sehari selama masa syuting. Tekanan untuk mengejar rating dan respons penonton juga dapat memperpanjang jam kerja, bahkan hingga 20 jam sehari, terutama jika ada perubahan alur cerita yang mendadak.

Para staf dan kru pun mengalami beban kerja yang serupa. Kepadatan jadwal dan tuntutan produksi yang tinggi menciptakan lingkungan kerja yang sangat menekan dan menuntut stamina fisik serta mental yang prima.

3. Kompleksitas dan Keterlambatan Pembayaran Gaji

Reborn Rookie

Sistem pembayaran gaji aktor dan aktris di Korea Selatan juga menyimpan kompleksitas tersendiri dan terkadang menimbulkan masalah. Aktor Park Jun Gyu pernah menjelaskan dalam sebuah acara bahwa bayaran untuk satu episode umumnya sama, terlepas dari jumlah adegan yang dijalani, apakah itu 10 atau 50 adegan.

Namun, ada pengecualian. Aktor atau aktris yang berperan sebagai orang yang sudah meninggal biasanya menerima bayaran lebih rendah. Akan tetapi, jika mereka adalah aktor atau aktris papan atas dan foto mereka muncul dalam adegan, bayaran mereka bisa menjadi jauh lebih besar.

Baru-baru ini, kasus keterlambatan pembayaran gaji untuk aktor dan aktris pendukung dalam serial drama Reverse mencuat ke publik. Serikat Aktivis Penyiaran Korea melaporkan bahwa meskipun drama tersebut telah dirilis melalui platform OTT Wave pada 17 April, para pemain dan kru belum menerima pembayaran mereka.

Mereka mendesak perusahaan produksi untuk segera melunasi tunggakan gaji tersebut. Selain itu, mereka juga meminta dukungan dari organisasi terkait, seperti Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata serta Badan Promosi Konten Korea, untuk menerapkan langkah-langkah pengawasan yang lebih efektif terhadap proyek-proyek yang mendapatkan dukungan produksi.

Artikel menarik Lainnya