Home » Kebiasaan yang Memicu Munculnya Flek Hitam Sejak Dini

Kebiasaan yang Memicu Munculnya Flek Hitam Sejak Dini

Skincapedia.com – Flek hitam atau hiperpigmentasi kini tidak lagi menjadi masalah eksklusif bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut. Fenomena ini semakin lazim ditemui pada individu berusia 20-an hingga 30-an, menampilkan bercak gelap yang mengganggu penampilan kulit wajah.

Munculnya flek hitam dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari paparan sinar matahari yang intens, sisa peradangan jerawat, ketidakseimbangan hormon, hingga kebiasaan sehari-hari yang seringkali dianggap remeh. Namun, kabar baiknya adalah sebagian besar penyebab ini dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan perawatan kulit yang konsisten.

Semakin dini akar permasalahan dikenali, semakin besar pula peluang untuk menghambat munculnya flek baru atau mengatasi flek yang sudah ada agar tidak semakin memburuk.

Lantas, kebiasaan-kebiasaan spesifik apa saja yang patut diwaspadai sebagai pemicu flek hitam di usia produktif ini?

1. Jarang Menggunakan Sunscreen

Paparan sinar ultraviolet (UV) adalah kontributor utama munculnya flek hitam atau hiperpigmentasi, bahkan sejak usia muda. Tanpa lapisan pelindung dari sunscreen, kulit secara otomatis akan meningkatkan produksi melanin sebagai respons pertahanan terhadap radiasi matahari.

Konsekuensinya, bercak gelap lebih mudah terbentuk, dan bekas jerawat yang ada pun akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memudar. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mengaplikasikan sunscreen dengan minimal SPF 30 setiap hari. Ini berlaku pula saat cuaca mendung atau ketika beraktivitas di dalam ruangan yang tetap terpapar cahaya matahari melalui jendela.

Dr. Elizabeth K. Hale, Senior Vice President The Skin Cancer Foundation, menekankan bahwa penggunaan tabir surya secara rutin merupakan langkah paling efektif dalam upaya pencegahan hiperpigmentasi yang disebabkan oleh paparan sinar UV.

2. Terlalu Lama di Depan Layar dan Terpapar Matahari

Selain sinar matahari langsung, paparan cahaya tampak berenergi tinggi dari layar perangkat digital yang berdurasi lama juga diduga berkontribusi terhadap hiperpigmentasi pada sebagian individu. Risiko ini semakin meningkat apabila paparan tersebut disertai dengan paparan sinar matahari.

Oleh karena itu, selain rutin menggunakan sunscreen, disarankan pula untuk membatasi paparan sinar matahari secara langsung. Penggunaan topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan juga sangat membantu, serta memberikan jeda istirahat bagi mata dan kulit dari penggunaan gadget secara berkala.

The Skin Cancer Foundation menjelaskan bahwa cahaya tampak, termasuk blue light yang dipancarkan oleh gawai, dapat memperparah kondisi hiperpigmentasi pada jenis kulit tertentu. Meskipun demikian, efek merusak dari sinar UV tetap jauh lebih signifikan.

3. Begadang dan Stres Berkepanjangan

Kurang tidur dan stres yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat memicu peningkatan produksi hormon kortisol. Hormon ini memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan kulit, berpotensi menimbulkan peradangan, memperlambat proses regenerasi sel kulit, memperburuk kondisi jerawat, dan membuat bekas jerawat lebih sulit hilang, sehingga flek hitam menjadi lebih kentara.

Menurut informasi dari American Academy of Dermatology, stres terbukti dapat memperparah berbagai masalah kulit, termasuk jerawat yang merupakan salah satu akar penyebab hiperpigmentasi. Kurang tidur dan tekanan emosional dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, yang merupakan salah satu pemicu utama timbulnya melasma atau flek hormonal, terutama di usia muda.

4. Memencet Jerawat dan Mengabaikan Bekasnya

Kebiasaan buruk memencet jerawat seringkali meninggalkan jejak berupa hiperpigmentasi pasca-inflamasi (PIH), yakni bekas kehitaman yang muncul akibat peradangan di area kulit tersebut. Jika bekas jerawat ini tidak mendapatkan perawatan yang memadai dan kulit terus terpapar sinar matahari, maka proses pemudaran hiperpigmentasi akan menjadi semakin sulit.

Oleh karena itu, penting untuk menahan diri agar tidak memencet jerawat. Sebaiknya, gunakan produk perawatan kulit yang diformulasikan khusus untuk membantu mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kulit.

5. Sering Menggosok Kulit Terlalu Keras

Penggunaan scrub dengan butiran kasar, menggosok wajah terlalu keras saat membersihkannya, atau melakukan eksfoliasi secara berlebihan dapat merusak lapisan pelindung alami kulit. Iritasi yang berulang kali terjadi dapat memicu munculnya hiperpigmentasi, terutama pada individu dengan warna kulit sedang hingga gelap.

Oleh karena itu, lakukan eksfoliasi dengan bijak dan pilih produk yang sesuai dengan sensitivitas dan kondisi kulit Anda. Penting untuk tidak berlebihan dalam melakukan proses ini.

Dilansir oleh Keck School of Medicine of USC, peradangan yang timbul akibat iritasi kulit merupakan salah satu pemicu utama terjadinya post-inflammatory hyperpigmentation atau hiperpigmentasi pasca-peradangan.

6. Pemakaian Produk Skincare yang Tidak Cocok

Menggunakan produk skincare yang tidak sesuai dengan jenis kulit, atau mengandung bahan aktif yang terlalu keras, dapat menimbulkan berbagai masalah seperti iritasi, kemerahan, hingga kerusakan pada skin barrier atau pelindung kulit. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, kulit akan menjadi lebih rentan terhadap hiperpigmentasi, khususnya setelah terpapar sinar matahari.

Oleh karena itu, sangat krusial untuk memilih produk perawatan kulit yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik kulit Anda. Selain itu, perkenalkan bahan-bahan aktif baru secara bertahap untuk memberikan waktu bagi kulit beradaptasi.

Menurut Dr. Heather Woolery-Lloyd, seorang dokter spesialis dermatologi di University of Miami Miller School of Medicine, iritasi yang timbul akibat penggunaan skincare yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko hiperpigmentasi, terutama pada individu dengan warna kulit yang lebih gelap.

Artikel menarik Lainnya