Skincapedia.com – Seringkali menjadi keluhan utama para penumpang, suhu dingin di dalam kabin pesawat, terutama saat menempuh perjalanan jarak jauh, membuat banyak orang memilih untuk membawa jaket tebal, selimut tambahan, atau mengenakan pakaian berlapis. Namun, fenomena ini bukan sekadar kebetulan atau kebiasaan maskapai penerbangan semata. Di balik rasa sejuk yang dirasakan, terdapat pertimbangan ilmiah dan operasional yang mendasari pengaturan suhu kabin pada tingkat tertentu.
Pertanyaan mengenai mengapa udara di pesawat terasa berbeda dari lingkungan biasa memang sering muncul. Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan termal saat terbang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas.
Alasan Ilmiah di Balik Suhu Kabin yang Lebih Sejuk

Pernahkah Anda merasa nyaman saat berada di ruang tunggu bandara, namun seketika merasa kedinginan begitu duduk di kursi pesawat? Fenomena ini ternyata memang dirancang secara sengaja dan bukan semata-mata karena sistem pendingin yang bekerja berlebihan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh ASTM International mengaitkan suhu kabin pesawat dengan potensi risiko kondisi yang dikenal sebagai hipoksia. Hipoksia adalah keadaan di mana jaringan tubuh tidak menerima pasokan oksigen yang memadai. Risiko ini dapat meningkat secara signifikan ketika seseorang berada pada ketinggian tertentu selama penerbangan.
Temuan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa suhu kabin yang terlalu hangat, dikombinasikan dengan tekanan udara pada ketinggian jelajah, dapat meningkatkan kemungkinan penumpang mengalami pusing atau bahkan pingsan. Oleh karena itu, maskapai penerbangan cenderung menjaga suhu kabin pada tingkat yang lebih sejuk sebagai langkah pencegahan.
Meskipun tingkat sensitivitas terhadap suhu bervariasi pada setiap individu, maskapai penerbangan wajib mempertimbangkan kondisi seluruh penumpang. Ada penumpang yang cenderung lebih mudah merasa gerah, sementara yang lain lebih cepat merasa kedinginan. Namun, dari perspektif keselamatan, suhu yang sedikit lebih dingin dianggap sebagai pilihan yang lebih aman untuk meminimalkan potensi risiko kesehatan.
Rentang Suhu Ideal dan Mekanisme Pengaturan

Meskipun terasa seperti ruangan yang menggunakan pendingin udara secara maksimal, suhu kabin pesawat sebenarnya tidak sedingin yang dibayangkan. Laporan dari AeroTime Hub mengindikasikan bahwa suhu kabin pesawat umumnya berkisar antara 22 hingga 24 derajat Celsius.
Angka ini sekilas terdengar nyaman. Namun, perlu diingat bahwa penumpang pesawat cenderung duduk diam dalam waktu yang lama. Kondisi ini membuat tubuh lebih mudah merasakan dingin, berbeda dengan saat kita aktif bergerak dan menghasilkan panas tubuh alami.
Lalu, siapa yang bertanggung jawab dalam mengatur suhu kabin? Menurut Josephine Remo, seorang pramugari dari Scandinavian Airlines, baik pilot maupun awak kabin memiliki kemampuan untuk mengontrol suhu di dalam pesawat. Namun, setiap maskapai biasanya menetapkan standar suhu yang berbeda-beda sesuai dengan kebijakan internal mereka.
Deanna Castro, seorang pramugari berpengalaman dan pendiri Future Flight Attendant, menambahkan bahwa banyak pesawat modern dilengkapi dengan panel pengaturan suhu yang dapat diakses langsung oleh awak kabin. Hal ini memudahkan kru untuk menyesuaikan kondisi kabin tanpa perlu terus-menerus berkomunikasi dengan pilot.
Menariknya, hingga saat ini belum ada peraturan federal yang secara spesifik mengatur standar suhu kabin pesawat. Castro bahkan menyebutkan bahwa Association of Flight Attendants (AFA) pernah berupaya mendorong regulasi semacam itu, namun hingga kini belum ada ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh Federal Aviation Administration (FAA).
Akibatnya, pengalaman suhu di setiap penerbangan dapat sedikit berbeda. Beberapa pesawat mungkin terasa lebih hangat, sementara yang lain terasa lebih dingin, tergantung pada kebijakan maskapai dan kondisi operasional penerbangan pada saat itu.
Meskipun suhu di dalam pesawat terkadang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian penumpang, terutama pada penerbangan jarak jauh, perlu dipahami bahwa di balik rasa dingin tersebut terdapat alasan kuat yang berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan efisiensi pengelolaan kabin penerbangan.
