Home » Fragrance Skincare: Bahaya atau Mitos?

Fragrance Skincare: Bahaya atau Mitos?

Fragrance Skincare: Bahaya atau Mitos?

Skincapedia.com – Aroma dalam produk perawatan kulit, atau yang dikenal sebagai fragrance, seringkali menjadi topik perdebatan di kalangan pecinta skincare. Banyak yang bertanya-tanya, apakah penambahan wewangian ini benar-benar seburuk yang dipersepsikan, mengingat fungsinya yang secara klinis tidak memberikan manfaat langsung bagi kesehatan kulit.

Alasan utama mengapa fragrance ditambahkan ke dalam formulasi skincare adalah untuk menutupi bau yang kurang sedap dari bahan-bahan dasar produk itu sendiri. Selain itu, aroma yang harum terbukti dapat meningkatkan pengalaman pengguna, memberikan efek menenangkan, merelaksasi, membangkitkan nostalgia, bahkan berfungsi sebagai mood-booster.

Foto diambil dari zarzoubeauty.com

Tidak jarang kita mendengar komentar positif dari konsumen mengenai aroma produk skincare. Frasa seperti “Aku suka aromanya, segar, refreshing… jadi bikin aku semangat,” atau “Wanginya enak, lembut, jadi teringat seseorang…” seringkali terdengar. Bahkan, aroma yang menyerupai bayi pun bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang.

Namun, di sisi lain, aroma yang tidak sesuai selera bisa menjadi penghalang besar. Pengalaman seperti “Aku nggak suka baunya, mirip daun singkong tumbuk, ganggu banget…” bisa membuat konsumen enggan menggunakan produk meskipun memiliki kandungan yang bagus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi produsen, terutama bagi ibu hamil yang seringkali memiliki hidung lebih sensitif terhadap berbagai aroma, di mana aroma tertentu bisa memicu rasa pusing atau mual.

Dari perspektif bisnis, jika sebuah produk memiliki formula yang baik tetapi aromanya tidak disukai, maka potensi penjualannya tentu akan terpengaruh. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa fragrance memegang peranan penting dalam menciptakan efek sensorik yang menyenangkan bagi pengguna.

Namun, di balik keharuman yang ditawarkan, terselip kekhawatiran. Hampir semua jenis fragrance, baik yang disintesis secara kimia maupun yang berasal dari alam, memiliki potensi untuk menimbulkan alergi dan meningkatkan sensitivitas kulit. Reaksi yang paling umum meliputi iritasi, kulit kering, kemerahan, rasa gatal, bahkan timbulnya jerawat atau breakout.

Lalu, Bagaimana menurut ahli, apakah fragrance betul seburuk itu?

“Sayangnya, tidak ada jawaban pasti untuk ini. Meskipun fragrance dapat ditoleransi oleh sebagian orang, namun dapat memicu alergi dan iritasi pada kulit sensitif,” ujar seorang ahli. “Kabar baiknya adalah industri skincare dapat mengembangkan formulasi yang bebas dari senyawa aroma yang dikenali dapat menyebabkan respons alergi. Selain itu, kandungan fragrance dalam produk skincare seringkali kurang dari 1%.” Sumber referensi.

Dengan demikian, tidak ada kepastian mutlak bahwa fragrance selalu buruk. Fakta menunjukkan bahwa banyak individu yang dapat mentoleransi fragrance dengan baik, meskipun potensi memicu sensitivitas atau alergi pada kondisi kulit tertentu tetap ada.

Kabar baiknya, para formulator dan produsen produk perawatan kulit kini semakin canggih dalam mengembangkan formulasi yang bebas dari komponen allergenic atau meminimalkan penggunaannya. Ditambah lagi, konsentrasi fragrance dalam formulasi skincare umumnya sangat rendah, yaitu kurang dari 1%.

Jadi, apakah kalian masih separno itu?

Kata ahli👇

Fragrance adalah istilah umum untuk sekumpulan bahan yang digunakan oleh industri kosmetik untuk memberi aroma pada produk, dan bisa berasal dari alam maupun sintetis.”

“Ada ribuan molekul aroma, dan untungnya hanya sebagian kecil yang dapat menyebabkan iritasi,” tambah Dr. Emma Wedgeworth, seorang dermatolog konsultan dan juru bicara British Skin Foundation. Sumber referensi.

Fragrance merupakan gabungan dari ribuan senyawa yang membentuk aroma tertentu. Untungnya, hanya sebagian kecil dari senyawa tersebut yang bersifat iritan.

Bayangkan, dalam konsentrasi 1% saja, sebuah produk bisa mengandung ribuan senyawa aroma yang berbeda, mulai dari yang menyegarkan, selembut bayi, hingga yang membangkitkan kenangan masa lalu. Namun, dari ribuan senyawa tersebut, hanya sebagian kecil yang berpotensi menyebabkan iritasi.

Lebih lanjut, jika suatu produk mengandung komponen fragrance yang termasuk dalam daftar EU 26 Allergen atau alergen wewangian umum, maka wajib dicantumkan secara terpisah di label, tidak bisa hanya ditulis “fragrance“. Contohnya meliputi: benzyl salicylate, alpha isomethyl ionone, cinnamal, isoeugenol, limonene, linalool, dan lain sebagainya.

Daftar komponen fragrance yang wajib dicantumkan secara terpisah👇

Sumber: zarzoubeauty.com

Jika konsentrasi komponen tersebut melebihi 0,001% pada produk leave-on, dan lebih dari 0,01% pada produk rinse-off, maka pencantumannya dalam daftar bahan sesuai standar INCI adalah wajib.

Lakukan tes patch pada area lengan bagian dalam, atau belakang telinga, setiap hari selama kurang lebih satu minggu. Jika tidak ada reaksi, maka produk tersebut aman untuk digunakan di wajah.

Siapa yang harus concern terhadap fragrance?

Mereka yang memiliki kulit yang benar-benar tidak toleran terhadap komponen fragrance, seperti kulit yang rentan alergi, atau kulit dengan kondisi inflamasi seperti eksim dan rosacea.

Untuk kelompok ini, sangat disarankan untuk memilih produk dengan label fragrance-free atau hypoallergenic guna meminimalkan potensi efek samping.

Bagi pemilik kulit sensitif atau yang skin barrier-nya sedang bermasalah, sebaiknya hindari fragrance untuk sementara waktu. Setidaknya, hindari produk dengan aroma yang ‘kuat’. Atau, lakukan test patch terlebih dahulu sebelum menjadikannya bagian dari rutinitas perawatan kulit harian.

“Jika Anda khawatir, uji coba produk pada sebagian kecil kulit lengan Anda setiap hari selama seminggu. Jika tidak ada reaksi, maka Anda mungkin bisa menggunakannya di wajah.” Sumber referensi*

Ulangi kembali, lakukan tes patch pada area lengan bagian dalam, atau belakang telinga, setiap hari selama kurang lebih satu minggu. Jika tidak ada reaksi, maka produk tersebut aman untuk digunakan di wajah.

Saatnya mematahkan mitos lagi. Tidak SEMUA fragrance itu BURUK. Penelitian menunjukkan bahwa konsumen seringkali lebih menyukai produk dengan aroma yang menyenangkan. Inilah alasan mengapa masih ada produk di pasaran dengan kandungan fragrance. Jika fragrance ini terbukti berbahaya bagi kulit, produk yang mengandung fragrance tersebut akan dilarang beredar di pasaran, sehingga tentu saja kita tidak akan bisa membelinya di masa depan. Sumber referensi*.

Pada akhirnya, tidak semua fragrance itu buruk. Jika sebuah fragrance terbukti berbahaya bagi kulit, produk yang mengandung senyawa tersebut pasti tidak akan lolos uji BPOM (Indonesia) atau FDA (Amerika) dan dilarang beredar di pasaran.

Setuju?

Sumber referensi:

https://www.refinery29.com/en-us/2022/02/10860563/fragrance-in-skincare-risks-dangers

*https://www.garnierusa.com/tips-how-tos/can-fragrance-affect-your-skin-care-routine#:~:text=%E2%80%9CFragrance%20can%20be%20an%20irritant,definitely%20more%20susceptible%20to%20reactions.

**https://zarzoubeauty.com/blog/fragrance-in-skincare-is-it-really-bad-for-our-skin/

Artikel menarik Lainnya