Istilah frugal living sering kali dikaitkan dengan kebiasaan hemat, mengurangi pengeluaran, ataupun hidup sederhana. Namun ternyata, hal ini tidak sesederhana itu lho. Frugal living bukan hanya sekadar menahan diri untuk tidak belanja aja.
Di balik gaya hidup ini, terdapat pola pikir dan karakter psikologis tertentu yang membuat seseorang lebih mampu mengelola uang, waktu, dan sumber daya secara bijak. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menjalani gaya hidup frugal cenderung memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kebahagiaan dan konsumsi. Inilah 5 kepribadian yang dimiliki orang yang menjalani frugal living. Apakah kamu termasuk?
Kontrol Diri yang Tinggi

Apakah kamu adalah orang yang mudah tergiur dengan diskon atau sebaliknya? Orang dengan pola hidup frugal biasanya mampu menahan dorongan untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan. Kemampuan ini berkaitan erat dengan konsep delayed gratification atau menunda kepuasan.
Menurut Personality and Social Psychology Bulletin, orang yang melakukan frugal living cenderung memiliki kemampuan menunda kepuasan. Hal ini berhubungan kuat dengan self-control dan conscientiousness yang tinggi. Orang yang menjalani pola hidup ini tidak anti menikmati hidup, tetapi tahu kapan harus menunggu demi hasil yang lebih baik.
Tidak FOMO

Di era media sosial, tekanan untuk selalu mengikuti tren sering kali datang tanpa disadari. Namun orang yang menjalani frugal living biasanya memiliki hubungan yang lebih sehat dengan konsumsi. Orang-orang yang menjalani gaya hidup ini tidak merasa harus membeli sesuatu hanya karena orang lain memilikinya.
Penelitian The Etiology of the Frugal Consumer menunjukkan bahwa konsumen frugal cenderung lebih rendah tingkat materialismenya, tidak terlalu berorientasi pada status sosial, dan lebih independen dalam mengambil keputusan konsumsi. Dengan kata lain, pelaku frugal living tidak mudah menjadikan barang sebagai alat validasi diri.
Memikirkan Tujuan Jangka Panjang

Hal yang paling menonjol dari orang frugal adalah kemampuannya dalam melihat masa depan dengan jelas. Orang-orang ini lebih fokus mempertimbangkan dampak dalam setiap keputusan yang diambil. Penelitian Determinants of Frugal Behavior menemukan bahwa perilaku frugal memiliki hubungan dengan consideration of future consequences atau kecenderungan seseorang untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari tindakannya saat ini.
Orang yang memiliki kesadaran masa depan lebih tinggi biasanya lebih mampu mengendalikan konsumsi. Itulah sebabnya frugal living sering kali bukan sekadar kebiasaan finansial, tetapi juga cara berpikir yang berorientasi masa depan.
Kreatif dan Resourceful dalam Memanfaatkan Barang

Journal of Consumer Research mendefinisikan frugality sebagai kemampuan untuk menahan pembelian sekaligus menggunakan sumber daya yang dimiliki secara cerdas. Orang frugal tidak selalu membeli barang baru ketika sesuatu rusak ataupun usang. Justru para pegiat pola hidup ini mencari cara untuk memperbaiki, menggunakan kembali, atau memaksimalkan fungsi barang yang sudah dimiliki.
Inti dari frugal living bukan hanya mengurangi pengeluaran, tetapi juga kemampuan menemukan nilai maksimal dari apa yang sudah dimiliki. Karena itu, banyak pelaku frugal living dikenal lebih inovatif dan tidak bergantung pada konsumsi berlebihan.
Mengukur Kebahagiaan dari Nilai, Bukan dari Barang

Pola hidup frugal bukan berarti hidup serba kekurangan ataupun menolak untuk menikmati uang yang dimiliki. Gaya hidup ini berkaitan dengan kemampuan untuk memahami prioritas. Ketika banyak orang menganggap semakin banyak barang berarti semakin bahagia, orang yang menjalani frugal living justru memiliki pemikiran yang berbeda.
Orang yang menjalani gaya hidup ini mengukur kebahagiaan dari kualitas bukan kuantitas. Oleh karena itu, orang frugal lebih sedikit mengaitkan identitas diri dengan kepemilikan barang atau merek tertentu.
