Home » Gejolak Minyak Dunia Bersejarah yang Mengguncang Dunia

Gejolak Minyak Dunia Bersejarah yang Mengguncang Dunia

Beberapa bulan belakangan ini, dunia tengah menghadapi potensi krisis minyak mentah menyusul konflik yang terjadi antara Israel & Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Konsekuensinya sangat signifikan dan membebani banyak negara, terutama setelah Republik Islam Iran secara resmi menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz di Teluk Persia. Hal ini menimbulkan kekacauan pada jalur vital perdagangan minyak dan gas (migas) dunia.

Kenaikan harga minyak menjadi suatu keniscayaan. Sejumlah negara telah merasakan kelangkaan akibat keterbatasan pasokan minyak mentah. Namun, krisis minyak mentah bukanlah fenomena baru, pasalnya peristiwa serupa pernah melanda dunia sebelumnya.

Berikut adalah 7 krisis minyak dunia yang paling mengguncang sepanjang sejarah, sebagaimana disarikan dari CNBC Indonesia.

1. Krisis Minyak 1973: Perang Yom Kippur dan Embargo OPEC

Ilustrasi

Sekitar tahun 1970 – 1971, serangkaian gejolak yang dikenal sebagai “Guncangan Minyak” mulai terasa di berbagai negara, tepatnya setelah sistem keuangan internasional Bretton Woods ditinggalkan.

Gejolak tersebut semakin memuncak saat Perang Yom Kippur pada 1973, ketika negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memberlakukan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel, meliputi Amerika Serikat, Belanda, Portugal, dan Afrika Selatan.

Akibatnya, harga minyak melonjak drastis hingga empat kali lipat, dari USD3 menjadi mendekati USD12 per barel. Dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi meluas ke perekonomian global, memicu inflasi tinggi dan resesi di banyak negara maju.

Pendapatan ekspor minyak negara-negara OPEC meroket dari USD7,7 miliar pada 1970, menjadi USD88,8 miliar pada 1974, menandai era baru petrodollar.

Embargo akhirnya dicabut pada 1974. Meskipun hanya mengurangi sekitar 9% pasokan minyak dunia selama lima bulan, namun pemanfaatan minyak bumi sebagai “senjata” menimbulkan kepanikan global dan menunjukkan kekuatan geopolitik baru dari negara-negara penghasil minyak.

2. Krisis Minyak 1979: Revolusi Iran

Antrian mobil di pom bensin di utara Texas tahun 1979

Setelah embargo minyak OPEC berakhir, krisis minyak global kembali terjadi ketika revolusi menggulingkan Shah Iran pada 1979. Produksi minyak mentah negara tersebut mengalami penurunan tajam.

Sebagai respons, OPEC menetapkan kenaikan harga minyak mentah rata-rata 10% per tahun secara bertahap. Harga minyak meroket dari sekitar USD15 per barel, menjadi USD40 per barel dalam waktu singkat. Krisis ini memicu inflasi tinggi di Amerika Serikat dan Eropa.

3. Krisis Minyak 1990: Perang Teluk

Krisis minyak tahun 1990

Pada 1990, Irak menginvasi Kuwait yang memicu pecahnya Perang Teluk Persia. Pasukan Irak bergerak ke area ladang minyak mentah di Teluk Persia dan merusak ladang-ladang minyak di Kuwait.

Menurut laporan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), perang tersebut menyebabkan lonjakan harga minyak mentah yang signifikan, dari kisaran USD15 – USD17, melonjak hingga mencapai USD40 per barel.

Akhirnya, Badan Energi Internasional (IEA) memutuskan untuk melepas cadangan energi strategis sebesar 2,5 juta barel minyak ke pasar setiap hari. Langkah ini berhasil meredakan dampak dari perang yang terjadi.

Baca juga: Cara Ampuh Hilangkan Bau Apek Baju

4. Krisis Minyak 2008: Efek Subprime Mortgage

Ilustrasi krisis minyak tahun 2008

Tahun 2008 menjadi periode paling dramatis dalam sejarah pasar energi. Kebangkrutan bank investasi global AS Lehman Brothers akibat krisis hipotek (subprime mortgage) memicu efek domino yang menyebabkan krisis keuangan global.

Situasi ini mendorong harga minyak mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu USD140 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi spekulasi pasar komoditas, permintaan energi dari China dan India, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tak lama setelah itu, dunia dilanda krisis finansial global yang mengguncang perekonomian internasional. Akibatnya, permintaan minyak yang telah meningkat sejak akhir Perang Teluk Persia, mengalami penurunan pada 2008 & 2009.

5. Krisis Minyak 2020: Pandemi Covid-19 dan Perang Harga Arab Saudi & Rusia

Ilustrasi krisis minyak tahun 2020

Pandemi Covid-19 yang melanda pada tahun 2020, menyebabkan penurunan drastis dalam permintaan energi. Hal ini disebabkan oleh pemberlakuan lockdown global dan pembatasan pergerakan. Kontraksi permintaan membuat harga minyak anjlok, bahkan sempat mengalami fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Salah satunya adalah kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) yang sempat diperdagangkan pada harga negatif. Hal ini mencerminkan terjadinya defisit yang cukup besar antara permintaan dan pasokan.

Masih di tahun yang sama, kondisi tersebut diperburuk oleh perang harga antara Rusia dengan Arab Saudi. Berdasarkan riset lembaga TRT World Research Centre, harga minyak mentah WTI pada April 2020 sempat amblas, dari sekitar USD50 per barel menjadi sekitar USD10 per barel.

Diketahui, selama pandemi Covid-19, konsumsi bensin menurun sebesar 46,40% dari 9,45 juta barel per hari, menjadi hanya 5,1 juta barel per hari. Namun, setelah Arab Saudi dan Rusia terlibat dalam perang harga selama hampir sebulan, keduanya sepakat untuk memangkas produksi minyak mentah. Hingga akhirnya, dalam pertemuan negara-negara OPEC dan non-OPEC menyepakati pemangkasan produksi tersebut.

6. Krisis Minyak 2022: Invasi Rusia ke Ukraina

Ilustrasi krisis minyak tahun 2022

Invasi Rusia ke Ukraina kembali mengguncang pasar minyak global. Harga minyak Brent melonjak hingga mencapai sekitar USD130 per barel, level tertinggi sejak 2008.

Rusia, sebagai salah satu produsen minyak terbesar, dikenai sanksi ekonomi oleh negara-negara Barat, yang menyebabkan pasokan energi global terancam dan mendorong harga minyak kembali ke level tertingginya.

7. Krisis Minyak 2026: Perang Israel & Amerika Serikat dengan Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Ilustrasi Filipina yang terdampak kenaikan BBM

Serangan yang dilancarkan oleh Israel & Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menjadi babak baru guncangan pasar minyak global yang paling dahsyat sepanjang sejarah.

Harga minyak mentah melonjak tajam setelah Iran memblokade akses Selat Hormuz pasca perang tersebut. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, kekurangan pasokan energi dan bahan bakar mulai muncul di negara-negara Asia, mulai dari Thailand hingga Pakistan.

Diperkirakan, krisis bahan bakar akan segera meluas ke negara-negara Barat. Eropa kemungkinan besar akan menghadapi lonjakan harga dan berisiko mengalami kelangkaan solar dalam beberapa waktu ke depan.

Artikel menarik Lainnya