Skincapedia.com – Milia, benjolan kecil berwarna putih yang kerap muncul di area sekitar mata dan bibir, memang bisa mengganggu penampilan. Berbeda dengan jerawat atau komedo, milia tidak terasa sakit saat disentuh dan tidak bisa dihilangkan dengan cara dipencet biasa. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun tipe kulit.
Munculnya milia seringkali membuat frustrasi karena ketahanannya yang luar biasa. Banyak saran mengenai cara menghilangkan milia beredar, mulai dari penggunaan produk perawatan kulit hingga metode alami. Namun, pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa milia tidak semudah itu diatasi.
(foto: Pinterest)
Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai milia, mulai dari definisi, penyebab, pencegahan, hingga cara penanganannya, berdasarkan pandangan para ahli dan pengalaman pribadi.
Apa itu Milia?
Menurut ahli kulit Elena Villanueva, milia adalah penumpukan keratin yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Keratin merupakan protein yang menjadi materi dasar penyusun kulit, rambut, dan kuku. Berbeda dengan jerawat, milia tidak mengalami inflamasi, kemerahan, atau pembengkakan. Kondisi ini tidak terkait dengan jenis kulit yang rentan berjerawat; siapa saja, dari berbagai usia dan jenis kelamin, berpotensi mengalami milia.
Milia ia actually a buildup of keratin that get trapped beneath the surface of the skin. It’s also important to know that. Unlike acne, milia does not get inflamed, red, or swollen. And you don’t have to have acne-prone skin to develop milia. In fact, any skin type, gender, or age group, can develop milia.
Intinya, milia adalah benjolan kecil yang terbentuk akibat keratin yang terperangkap di bawah lapisan kulit. Milia bukan jerawat, komedo, atau pori-pori tersumbat. Jika ditekan, milia tidak akan keluar seperti komedo, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, termasuk bayi.
Apa yang Menyebabkan Milia ini Muncul?
Para pakar dermatologi menyebutkan beberapa faktor yang dapat memicu munculnya milia. Salah satunya adalah kurangnya eksfoliasi kulit. Ketika sel kulit mati yang kaya keratin tidak terangkat secara optimal, mereka dapat terperangkap di bawah permukaan kulit dan membentuk benjolan-benjolan kecil.
Selain itu, penggunaan produk perawatan kulit yang terlalu ‘berat’, seperti minyak atau krim wajah yang pekat, juga bisa menjadi penyebab. Faktor gaya hidup turut berperan, seperti kurang tidur, kebiasaan merokok, dan kurangnya menjaga kebersihan diri.
Bisakah kita Mencegah Kemunculan Milia?
Para ahli mengakui bahwa pencegahan milia tidak selalu mudah. Namun, dengan memahami penyebabnya, langkah-langkah pencegahan dapat diambil. Rutin melakukan eksfoliasi kulit, menghindari penggunaan produk perawatan kulit dan makeup yang terlalu berat atau berbasis minyak, memastikan tidur yang cukup, tidak merokok, serta menjaga kebersihan diri adalah beberapa cara yang dapat membantu.
The answer to this question ia not as easy as we’d hope.
Meskipun tidak ada jaminan 100% bebas milia, tindakan pencegahan ini dapat meminimalkan risiko kemunculannya.
Adakah Cara Menghilangkan Milia?
Untuk menghilangkan milia, para ahli merekomendasikan penggunaan produk eksfolian yang mengandung bahan aktif seperti salicylic acid atau glycolic acid. Prosedur chemical peeling juga dapat menjadi pilihan. Namun, penting untuk diingat bahwa proses menghilangkan milia membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, karena hasilnya tidak instan.
(Foto: Pinterest)
Lebih lanjut lagi, konsultasi dengan ahli dermatolog atau dokter kulit adalah langkah yang paling tepat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.
Pengalaman Pribadi dengan Milia
Bagi sebagian orang, milia bisa menjadi masalah yang berulang. Penulis artikel ini mengaku memiliki tipe kulit yang rentan terhadap milia. Namun, ia memilih untuk tidak sering pergi ke salon atau berkonsultasi ke dokter kulit untuk masalah ini. Ia juga enggan mencoba berbagai produk perawatan kulit secara coba-coba.
Ketika milia muncul di wajahnya, ia mengambil tindakan yang dianggapnya ‘ekstrem’, yaitu dengan menusuk milia menggunakan jarum steril lalu memencetnya hingga ‘butiran’ milia keluar. Ia menekankan bahwa metode ini sangat menyakitkan dan tidak direkomendasikan untuk diikuti. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah milia bertambah banyak dan menjadi lebih sulit diatasi.
Setelah melakukan prosedur tersebut, kulit biasanya akan sedikit luka. Untuk mempercepat penyembuhan, ia rutin mengoleskan aloevera gel. Hasilnya, dalam 3-4 hari, luka akan mengering dan milia hilang tanpa bekas.
Penulis menegaskan bahwa metode ini memerlukan tekad kuat untuk menahan rasa sakit. Ia berbagi pengalaman ini murni sebagai cerita pribadi dan sangat menyarankan pembaca untuk tidak menirunya.
Milia ini sungguh berat. Kamu nggak akan kuat. Udah biar aku saja!
Sekali lagi, metode ini hanya dibagikan sebagai pengalaman pribadi dan tidak untuk ditiru.
Sumber: https://www.mindbodygreen.com/articles/all-inclusive-guide-to-understanding-milia
