Home » Tiga Tanda Seseorang Berpura-pura Bahagia di Media Sosial

Tiga Tanda Seseorang Berpura-pura Bahagia di Media Sosial

Skincapedia.com – Di era serba digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang. Platform ini digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari informasi, memamerkan pencapaian, hingga berbagi pengalaman hidup.

Namun, di balik gemerlap konten yang ditampilkan, media sosial juga bisa menjadi cerminan dari seseorang yang berusaha menampilkan kebahagiaan, padahal kenyataannya tidak demikian. Terkadang, media sosial dimanfaatkan sebagai pelarian dari rasa kesepian atau upaya menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan informasi dari laman Your Tango, terdapat beberapa indikator dalam postingan media sosial yang bisa membantu kita mengenali seseorang yang mungkin sedang berpura-pura bahagia.

1. Oversharing

oversharing adalah berbagi informasi pribadi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk hubungan atau situasi tertentu.

Salah satu ciri yang cukup kentara dari seseorang yang menampilkan kebahagiaan palsu di media sosial adalah kecenderungan untuk mengunggah postingan yang terlalu detail dan berlebihan. Mereka mungkin akan terus-menerus membagikan betapa sempurnanya hidup mereka, kedekatan yang luar biasa dengan keluarga, atau berbagai pencapaian hebat yang diraih.

Namun, kenyataannya, unggahan-unggahan tersebut tidak selalu mencerminkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Justru sebaliknya, oversharing semacam ini seringkali menjadi cara seseorang untuk meyakinkan orang lain, bahkan diri sendiri, bahwa segalanya baik-baik saja, meskipun kondisi batin mereka jauh dari itu.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior Reports menemukan bahwa individu yang melakukan oversharing di media sosial seringkali berusaha menampilkan citra kebahagiaan dengan membagikan terlalu banyak informasi pribadi.

Oleh karena itu, ketika Anda mengamati seseorang yang cenderung oversharing di media sosial, hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa mereka sedang berjuang menghadapi sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan, dan berusaha keras untuk menyembunyikannya.

2. Mengunggah Kutipan Positif Terus-menerus

Kaum words of affirmation sangat suka diberi pujian atau afirmasi positif. Kamu bisa memberikan kartu ucapan berisi kalimat menyentuh hati untuk mereka.

Postingan berupa kutipan atau quotes positif sangat umum ditemukan di berbagai platform media sosial. Namun, jika seseorang secara konsisten hanya mengunggah jenis konten ini, ini bisa menjadi sinyal bahwa mereka berusaha menutupi sesuatu yang kurang menyenangkan dan ingin menampilkan citra bahwa segalanya berjalan baik.

Lebih jauh lagi, kebiasaan ini bisa mengarah pada fenomena yang dikenal sebagai toxic positivity. Menurut Kendra Cherry, MSEd, toxic positivity adalah sebuah pandangan yang menganggap seseorang harus selalu bersikap positif, terlepas dari apapun yang terjadi dalam kehidupannya. Praktik ini pada dasarnya merupakan bentuk penghindaran dari situasi emosional yang sulit.

“Ketika orang terlibat dalam perilaku seperti ini, itu memungkinkan mereka untuk menghindari situasi emosional yang membuat mereka merasa tidak nyaman,” jelas Kendra Cherry.

3. Foto-foto Nostalgia

3 Ciri Kepribadian Orang yang Punya Second Account Media Sosial Menurut Riset/Foto: pexels.com/www.kaboompics.com

Seseorang yang berusaha menampilkan kebahagiaan, padahal sedang tidak merasakannya, mungkin akan cenderung memposting foto-foto lama atau bernuansa nostalgia. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kembali perasaan bahagia yang pernah mereka alami di masa lalu.

Tindakan ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat pribadi tentang momen-momen bahagia, tetapi juga sebagai cara untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka pernah mengalami masa-masa yang lebih baik. Ini adalah upaya untuk mempertahankan citra positif di mata publik.

Selain membangkitkan kenangan indah, melihat kembali foto-foto lama juga dapat membantu mengurangi perasaan kesepian. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychological Science menemukan bahwa nostalgia mampu meningkatkan persepsi seseorang terhadap dukungan sosial yang mereka miliki.

Oleh karena itu, ketika seseorang secara rutin melihat kembali foto-foto lama, mereka cenderung merasa tidak terlalu kesepian dan mungkin merasa lebih terhubung dengan masa lalu yang lebih bahagia.

Artikel menarik Lainnya