Home » Negara yang Pernah Bangkrut Akibat Berbagai Masalah

Negara yang Pernah Bangkrut Akibat Berbagai Masalah

Kebangkrutan sebuah negara terjadi ketika pemerintah tidak mampu lagi melunasi kewajiban utangnya. Beban finansial yang terlalu berat melebihi kapasitas anggaran negara menjadi pemicunya. Penyebabnya bisa sangat beragam, mulai dari kesalahan dalam perumusan kebijakan, runtuhnya sektor perbankan, hingga kejadian tak terduga seperti pajak pada aplikasi pesan instan atau matinya sektor pariwisata.

Berdasarkan rangkuman dari The Business Standard dan CNBC Indonesia, berikut adalah tujuh negara yang pernah mengalami kondisi kebangkrutan. Mari kita simak penjelasannya lebih lanjut!

1. Lebanon

Pada akhir tahun 2019, pemerintah Lebanon berencana menerapkan pajak baru, termasuk pengenaan biaya bulanan sebesar 6 USD untuk panggilan suara melalui WhatsApp. Kebijakan ini memicu gelombang protes besar-besaran di seluruh negeri. Bank-bank kemudian memberlakukan pembatasan modal secara ketat, sehingga menyulitkan warga untuk menarik tabungan mereka sendiri.

Pada Maret 2020, negara ini tidak mampu membayar utangnya yang mencapai 90 miliar USD, setara dengan 170% dari pendapatan negara. Akhirnya, Lebanon secara resmi menyatakan bangkrut pada April 2020. Nilai mata uangnya terus merosot drastis, mencapai 90% pada Juni 2021. Bank Dunia bahkan mengkategorikan krisis yang dialami Lebanon sebagai salah satu yang terburuk dalam 150 tahun terakhir.

2. Sri Lanka

Pandemi Covid-19 memberikan pukulan telak bagi sektor pariwisata Sri Lanka, yang merupakan sumber utama pendapatan devisa negara. Situasi ini diperparah oleh masalah keuangan internal yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Pada April 2022, Sri Lanka menyatakan bangkrut karena tidak mampu membayar utang luar negerinya yang berjumlah 51 miliar USD. Akibatnya, negara ini mengalami kelangkaan bahan bakar yang parah, inflasi yang tinggi, serta kekacauan sosial. Saat ini, Sri Lanka berada di bawah pengawasan ketat Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menjalani program reformasi ekonomi secara menyeluruh.

3. Zimbabwe

Kebangkrutan Zimbabwe pada tahun 2008 disebabkan oleh penumpukan utang luar negeri yang mencapai 4,5 miliar USD. Situasi ini diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang terus-menerus mencetak uang dalam jumlah besar, yang akhirnya menyebabkan inflasi ekstrem hingga mata uangnya kehilangan nilai.

Dengan tingkat pengangguran yang melonjak hingga 80%, sebagian besar warga terpaksa kembali menggunakan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hingga kini, Zimbabwe masih berjuang keras untuk memperbaiki sistem ekonominya demi menstabilkan mata uang barunya.

4. Islandia

Islandia mengalami kejatuhan ekonomi yang signifikan pada tahun 2008. Hal ini disebabkan oleh membengkaknya utang bank-bank swastanya yang mencapai sepuluh kali lipat dari total pendapatan negara, atau sekitar 85 miliar USD.

Ketika krisis keuangan global melanda, tiga bank terbesar di Islandia langsung kolaps. Peristiwa ini menyebabkan ekonomi negara tersebut menyusut hingga 10% dalam kurun waktu dua tahun. Namun, Islandia berhasil bangkit dan pulih berkat penanganan krisis yang efektif. Pada tahun 2014, ekonominya menunjukkan pertumbuhan sebesar 1% lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis, dengan angka pengangguran yang stabil di kisaran 4%.

5. Venezuela

Meskipun kaya akan sumber daya minyak, Venezuela mengalami keruntuhan ekonomi akibat ketergantungan yang berlebihan pada ekspor komoditas tersebut. Saat harga minyak dunia anjlok, pemerintah justru mengambil langkah drastis dengan mencetak uang dalam jumlah besar untuk menutupi utang yang mencapai 150 miliar USD.

Konsekuensinya, nilai mata uang Venezuela hancur lebur, inflasi melonjak tajam, dan cadangan devisa negara terkuras habis hingga tersisa 10 miliar USD pada tahun 2017. Hingga saat ini, Venezuela masih terus berupaya keras untuk mengendalikan laju inflasi demi memulihkan daya beli masyarakatnya.

6. Yunani

Krisis utang yang melanda Yunani sempat menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi di kawasan Uni Eropa. Negara ini tidak mampu membayar utangnya yang terus membengkak, dari 138 miliar USD pada tahun 2012 menjadi 360 miliar USD pada tahun 2015.

Uni Eropa akhirnya memberikan bantuan dana talangan, sementara pemerintah Yunani menerapkan program penghematan yang sangat ketat bagi rakyatnya. Belakangan, ekonomi Yunani mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan pertumbuhan yang stabil di angka 8,3%.

7. Argentina

Argentina menjadi contoh kegagalan kebijakan menyamakan nilai mata uang Peso dengan Dolar AS dalam rasio 1:1. Diperparah oleh praktik korupsi dan akumulasi utang publik yang tidak terkendali, Argentina akhirnya gagal membayar utangnya sebesar 145 miliar USD pada tahun 2001.

Angka tersebut merupakan rekor tertinggi pada masanya dan memicu kepanikan di kalangan warga, yang berbondong-bondong menarik uang mereka dari bank. Situasi ini juga menyebabkan lonjakan angka pengangguran hingga melampaui 20%. Hingga kini, Argentina masih memegang predikat sebagai pemegang utang terbesar kepada IMF.

Artikel menarik Lainnya