Minggu, 31 Mei 2026 – Umat Buddha di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Waisak 2570 BE dengan penuh sukacita. Perayaan ini diwarnai oleh beragam tradisi yang kaya akan nilai budaya dan spiritual, memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha Gautama: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya.
Meskipun cara perayaannya berbeda-beda di setiap negara, inti dari peringatan Waisak selalu melibatkan kunjungan ke vihara atau kuil untuk merenungkan ajaran Buddha. Perayaan ini menjadi momen penting bagi umat Buddha untuk merefleksikan kehidupan dan ajaran Sang Buddha.
Berikut adalah 10 tradisi perayaan Waisak yang dilaksanakan di berbagai negara, seperti yang dilaporkan oleh detikEdu.
1. Nepal

Sebagai tanah kelahiran Sang Buddha Gautama, Nepal merayakan Waisak, yang dikenal secara lokal sebagai Buddha Jayanti, dengan berbagai kegiatan keagamaan yang sangat sakral dan khidmat. Nepal menjadi salah satu destinasi penting bagi umat Buddha dunia.
Pada Hari Raya Waisak, umat Buddha di Nepal biasanya mengenakan pakaian serba putih, melambangkan kesucian dan ketulusan. Mereka berbondong-bondong mengunjungi Kuil Maya Dewi di Lembini, tempat suci yang menandai kelahiran Sang Buddha, untuk bersembahyang, berziarah, dan berdoa bersama.
Banyak vihara dihiasi dengan indah menggunakan lampu-lampu gemerlap, bunga segar, dan bendera doa Buddhis. Beberapa vihara juga menggelar prosesi mengelilingi patung Buddha, melantunkan paritta suci, serta menyalakan lilin sebagai simbol pencerahan yang diharapkan dapat menerangi batin.
Tradisi Pemberian Derma (Dana Paramita) juga menjadi bagian penting dalam perayaan ini. Masyarakat berlomba-lomba melakukan perbuatan baik dengan memberikan persembahan atau sedekah kepada para biksu, seperti makanan, pakaian, atau kebutuhan lainnya, sebagai wujud rasa syukur dan welas asih.
2. China

Dengan populasi yang sangat besar, Tiongkok memiliki jumlah penganut Buddha yang signifikan, diperkirakan mencapai lebih dari 254 juta jiwa, atau sekitar 18% dari total penduduknya. Hal ini menjadikan Tiongkok sebagai rumah bagi penganut Buddha terbanyak di dunia.
Oleh karena itu, perayaan Waisak, yang dikenal sebagai Fodan atau Hari Lahir Buddha, dirayakan dengan sangat meriah. Berbagai kegiatan keagamaan dan budaya diselenggarakan di kuil-kuil di seluruh negeri.
Salah satu tradisi unik yang dilaksanakan adalah Yufojie, yaitu memandikan patung bayi Buddha dengan air wangi yang telah diberkati. Tradisi ini memiliki makna mendalam untuk membersihkan batin dan melepaskan karma buruk yang melekat pada diri manusia.
Selama periode perayaan Waisak, banyak umat Buddha di Tiongkok memilih untuk mengonsumsi makanan vegetarian. Langkah ini diambil sebagai bentuk praktik welas asih terhadap semua makhluk hidup, menunjukkan penghargaan terhadap kehidupan.
3. Thailand

Thailand merupakan negara dengan jumlah penganut Buddha terbanyak kedua di dunia. Perayaan Waisak, yang dikenal sebagai Visakha Bucha Day, diisi dengan serangkaian ibadah dan tradisi yang sarat makna spiritual. Kegiatan seperti pergi ke vihara, berderma kepada biksu, dan melakukan tradisi mengelilingi kuil menjadi bagian penting.
Baca juga: Rutin Makan Alpukat Beri Manfaat Kesehatan Tubuh
Sejak pagi hari, umat Buddha di Thailand sudah berkumpul di kuil-kuil, termasuk Wat Phra Kaew atau kuil-kuil lainnya, untuk memanjatkan doa dan melakukan kebaktian. Terdapat pula prosesi Wian Tian, di mana umat Buddha akan mengelilingi kuil atau stupa utama sebanyak tiga kali. Mereka membawa bunga, dupa, dan lilin yang menyala, sebagai simbol penghormatan.
Beberapa kuil juga menyelenggarakan tradisi melepaskan hewan, seperti burung atau ikan, ke alam bebas. Tindakan ini melambangkan pembebasan diri dari penderitaan dan karma buruk, serta sebagai bentuk ekspresi welas asih.
4. Sri Lanka

Masyarakat Sri Lanka menyambut Hari Raya Waisak dengan penuh sukacita melalui berbagai tradisi yang meriah dan penuh warna. Perayaan ini sering kali dijuluki sebagai Festival Cahaya karena dihiasi dengan lentera kertas yang indah, panggung cahaya yang disebut Thorana, serta kegiatan berderma dan beribadah.
Selama perayaan, rumah-rumah warga dan jalan-jalan dihiasi dengan lentera kertas warna-warni yang dikenal sebagai Vesak Kudu. Selain itu, panggung cahaya raksasa didirikan di berbagai sudut kota, menampilkan adegan-adegan penting dari kehidupan Sang Buddha yang sarat dengan pesan moral dan spiritual.
5. Myanmar

Di Myanmar, Hari Raya Waisak dikenal sebagai Hari Bulan Purnama Kason. Tradisi yang khas dilakukan adalah menyiram Pohon Bodhi, pohon suci tempat Sang Buddha mencapai pencerahan, menggunakan pot tanah liat. Masyarakat akan membawa pot berisi air dan menyiramkannya ke akar pohon di seluruh negeri sebagai bentuk penghormatan.
Umat Buddha di Myanmar umumnya memusatkan perayaan Waisak di berbagai kuil dan pagoda. Mereka melakukan kegiatan seperti memberikan sedekah, berpuasa, bermeditasi, serta mengikuti tradisi melepas hewan seperti burung atau ikan ke alam bebas. Hal ini melambangkan welas asih dan kebebasan bagi semua makhluk hidup.
6. Vietnam

Perayaan Waisak di Vietnam, yang dikenal secara lokal sebagai Phật Đản, dirayakan dengan berbagai tradisi yang meriah dan kaya akan nilai budaya. Salah satu tradisi yang penting adalah upacara Moc Duc, di mana umat Buddha memandikan patung bayi Bodhisattva Pangeran Siddhartha.
Upacara ini memiliki makna simbolis untuk pembersihan dan penyucian diri, baik secara lahir maupun batin. Selain itu, masyarakat juga sering mengadakan pawai di jalan-jalan utama, mengarak mobil bunga dan membawa patung Buddha. Pada malam harinya, festival lampion yang indah digelar di sepanjang tepi sungai maupun di jalanan kota.
Tradisi pelepasan burung merpati dan hewan lainnya juga kerap dilaksanakan sebagai simbol cinta kasih universal dan kebebasan bagi semua makhluk hidup, mencerminkan ajaran welas asih Sang Buddha.
7. Jepang

Di Jepang, perayaan Waisak, yang disebut Hana Matsuri, seringkali bertepatan dengan musim semi. Perayaan ini diwarnai dengan pembuatan Hanamido, sebuah kuil kecil yang dihiasi dengan bunga-bunga musim semi dan dilengkapi dengan patung bayi Buddha.
Kemudian, umat Buddha akan menuangkan amacha, sejenis teh manis yang diseduh dari daun hydrangea, ke atas patung tersebut menggunakan sendok kayu. Tradisi ini merupakan simbol pembersihan spiritual dan penyucian diri.
Dalam beberapa tradisi, masyarakat dan anak-anak merayakannya dengan melakukan ritual mengelilingi bunga teratai. Tindakan ini terinspirasi dari legenda Buddha yang menceritakan bahwa bayi Buddha dapat berjalan seketika setelah mengelilingi bunga teratai, dan bunga-bunga tersebut bermekaran di setiap langkahnya.
8. Kamboja

Sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, Kamboja menjadikan perayaan Waisak, yang disebut Visak Bochea, sebagai hari libur nasional. Masyarakat Kamboja merayakannya dengan berbagai tradisi keagamaan yang dilaksanakan di kuil dan pagoda.
Mereka berbondong-bondong mendatangi pagoda untuk berdoa, mengucapkan rasa syukur, dan memanjatkan harapan. Salah satu pusat perayaan yang paling ramai dikunjungi adalah Gunung Oudong (Phnom Preah Reach Troap), yang memiliki stupa tempat penyimpanan relik Buddha yang sangat dihormati.
Di beberapa daerah di Kamboja, perayaan Waisak juga dimeriahkan dengan tradisi pelepasan lampion ke udara, yang melambangkan harapan dan doa untuk kedamaian serta pencerahan.
9. Korea Selatan

Di Korea Selatan, Hari Raya Waisak, yang dikenal sebagai Seokga Tansinil, dirayakan dengan berbagai festival meriah yang memukau. Salah satu yang paling terkenal adalah Yeon Deung Hoe, sebuah festival lampion berwarna-warni yang menampilkan jutaan lentera berbentuk bunga teratai yang menghiasi jalanan kota.
Festival bunga teratai yang spektakuler ini memiliki sejarah panjang, diketahui telah dilaksanakan sejak masa Dinasti Goryeo dan Joseon, menjadikannya tradisi yang sangat tua dan mendalam.
Selain itu, umat Buddha berkumpul di vihara atau kuil untuk melaksanakan ritual memandikan patung bayi Buddha, sebagai simbol penyucian diri dan pembersihan batin. Beberapa kuil juga menyelenggarakan berbagai permainan tradisional Korea serta pertunjukan seni seperti tari topeng dan akrobatik, menambah semarak perayaan.
10. Indonesia

Sama seperti di negara-negara lain, perayaan Waisak di Indonesia juga disambut dengan meriah dan penuh makna. Salah satu perayaan paling populer dan menjadi pusat perhatian adalah perayaan nasional yang dipusatkan di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Berbagai kegiatan keagamaan dan budaya diselenggarakan di sana, dihadiri oleh ribuan umat Buddha dari berbagai majelis.
Rangkaian perayaan Waisak nasional di Candi Borobudur meliputi beberapa ritual penting:
- Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi. Umat Buddha kemudian melakukan arak-arakan membawa Air Berkah dari Umbul Jumprit dan Api Dharma yang disakralkan, dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.
- Pradaksina, sebuah ritual sakral di mana umat Buddha berjalan mengelilingi candi sebanyak tiga kali searah jarum jam. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan mendalam kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.
- Pindapatta, sebuah ritual derma di mana umat memberikan dana dan makanan kepada para biksu, sebagai wujud dukungan terhadap kehidupan monastik.
- Tradisi Thudong, sebuah kegiatan ziarah yang dilakukan oleh para biksu (bhante) dengan berjalan kaki jarak jauh melintasi berbagai daerah di Indonesia sebelum akhirnya beribadah di Candi Borobudur.
- Pelepasan lampion menjadi salah satu rangkaian acara yang paling dinantikan. Ribuan lampion diterbangkan ke langit, melambangkan pencerahan batin dan harapan akan kedamaian dunia.
Demikianlah berbagai tradisi perayaan Hari Waisak yang dilaksanakan di berbagai negara di seluruh dunia. Bagi umat Buddha yang merayakannya, selamat Hari Raya Waisak!
