Home » Bahaya Makan Terlalu Cepat untuk Tubuh

Bahaya Makan Terlalu Cepat untuk Tubuh

Skincapedia.com – Di tengah kesibukan sehari-hari, makan dengan cepat kerap menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan. Terlebih lagi, ketika jadwal padat dan waktu makan terasa sangat singkat, menyelesaikan santapan dalam hitungan menit seolah sudah menjadi hal yang lumrah.

Namun, penting untuk disadari bahwa kebiasaan makan terlalu cepat menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Berikut adalah tiga dampak buruknya bagi kesehatan Anda.

1. Memicu Makan Berlebih dan Kenaikan Berat Badan

Kebiasaan makan berlebihan saat berbuka, terlalu banyak konsumsi makanan manis, serta kurang bergerak sering menjadi penyebab utama berat badan naik selama puasa. Ditambah pola tidur yang berantakan dan porsi sahur yang tidak terkontrol, tubuh lebih mudah menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak.

Salah satu dampak paling langsung dari kebiasaan makan terlalu cepat adalah kecenderungan untuk mengonsumsi makanan lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh.

Sebagaimana dilansir dari Clean Eating Magazine, makan terlalu cepat memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Hal ini dikarenakan makan dengan tergesa-gesa cenderung membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak makanan beserta kalorinya.

Mengutip dari laman Foodguides, seorang ahli gizi bernama Andy De Santis, MPH, RD, menjelaskan bahwa proses mengunyah makanan secara lebih saksama terbukti mampu mengubah cara tubuh melepaskan hormon yang berperan dalam rasa kenyang dan lapar. Akibatnya, ketika kita makan terlalu cepat, sinyal “sudah cukup makan” dari tubuh tidak sempat terproses dengan baik oleh otak.

Baca juga: Orang yang Mandiri: Empat Tanda Kepribadiannya

Bahkan, efek dari makan cepat ini dapat berlanjut beberapa menit setelah selesai makan. Orang yang makan dengan tergesa-gesa dilaporkan merasa lebih lapar dibandingkan dengan mereka yang makan dengan santai.

Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih mudah tergoda untuk ngemil di luar jam makan, yang pada akhirnya menyebabkan asupan kalori harian menjadi tidak terkontrol.

2. Mengganggu Kesehatan Pencernaan

makanan pemicu perut kembung

Mengunyah makanan dengan baik merupakan komponen krusial dalam proses pencernaan. Proses ini membantu mempersiapkan makanan dan mengaktifkan tahapan pencernaan selanjutnya di dalam saluran cerna.

Makan terlalu cepat dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah pencernaan yang umum terjadi, seperti gastritis (radang lambung) dan naiknya asam lambung. Selain itu, makan dengan cepat juga berpotensi menyebabkan masuknya udara berlebih ke dalam saluran cerna. Hal ini kemudian dapat berujung pada rasa kembung, gas berlebih, dan bahkan memperburuk gejala dari kondisi seperti sindrom iritasi usus besar.

Makan secara perlahan dan hati-hati merupakan kunci agar tubuh dapat mengolah dan menyerap nutrisi dari makanan secara maksimal.

3. Membuat Kadar Gula Darah Kurang Stabil

Gula darah akan melonjak dengan cepat/Foto: Magnific.com

Ternyata, kecepatan makan juga memiliki pengaruh terhadap kestabilan kadar gula darah dalam tubuh, lho.

Mengutip dari Foodguides, sebuah uji klinis acak yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa pada partisipan perempuan sehat, mengonsumsi makanan yang sama dalam kurun waktu yang lebih lama menghasilkan respons gula darah yang jauh lebih baik. Hal ini terlihat dari puncak gula darah yang lebih rendah dan durasi kadar gula darah tetap tinggi yang lebih singkat.

Makan dengan cepat juga dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap resistansi insulin dan sindrom metabolik. Sindrom metabolik sendiri merupakan serangkaian kondisi yang dapat meningkatkan risiko terkena diabetes, penyakit jantung, hingga stroke.

Dalam sebuah studi yang melibatkan hampir 9.000 orang, ditemukan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan makan cepat memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan sindrom metabolik dalam tiga tahun berikutnya, dibandingkan dengan mereka yang makan lebih lambat.

Selain itu, sebuah studi berskala besar dari Jepang yang melibatkan hampir 200.000 peserta juga mengindikasikan bahwa kebiasaan makan cepat merupakan prediktor risiko diabetes, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang relevan.

Artikel menarik Lainnya