Home » Dampak Melemahnya Rupiah bagi Masyarakat Desa

Dampak Melemahnya Rupiah bagi Masyarakat Desa

Rupiah Melemah, Ini Dampaknya yang Bisa Dirasakan Masyarakat Desa – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini tengah mengalami pelemahan. Kondisi tingginya nilai dolar AS ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Pasalnya, pelemahan rupiah akan membawa dampak ekonomi yang signifikan, baik bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan.

Data per Senin (18/5/2026) pagi mencatat bahwa dolar AS telah menembus angka Rp17.630. Pelemahan nilai rupiah ini ternyata dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat desa, meskipun mereka tidak secara langsung menggunakan dolar sebagai alat transaksi sehari-hari.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menjelaskan bahwa perekonomian masyarakat kecil seringkali menjadi pihak terakhir yang menyadari gejolak nilai tukar mata uang. Namun, mereka justru menjadi pihak pertama yang merasakan lonjakan harga barang.

“Masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung. Akan tetapi, banyak kebutuhan penting seperti pupuk, bahan bakar minyak (BBM), logistik, pakan ternak, obat-obatan, hingga mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan, sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah terhadap dolar,” jelas Ronny kepada Detikcom pada (17/5/2026).

Kenaikan Harga BBM sampai Bahan Baku Terkait Impor

BBM yang masih impor akan terdampak depresiasi rupiah

Lonjakan nilai dolar AS terhadap rupiah diprediksi akan memicu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pasokan BBM di Indonesia sebagian besar masih bergantung pada impor.

Baca juga: Kerbau Mirip Donald Trump Jadi Viral di Media Sosial

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menyatakan bahwa inflasi yang berasal dari impor akan mulai meningkat. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya distribusi BBM dan harga barang secara umum. “Inflasi dari impor akan terjadi, terutama untuk barang-barang yang terkait dengan impor, baik itu bahan baku, bahan penolong, maupun barang konsumsi,” ujar Huda mengutip CNN Indonesia.

Tidak hanya BBM, berbagai produk lain yang juga dipengaruhi oleh impor akan mengalami dampak serupa. Mulai dari plastik yang kita gunakan sehari-hari, komponen barang elektronik seperti chip dan semikonduktor, hingga harga pupuk. Ketika pasokan barang terganggu dan nilai rupiah melemah, kenaikan harga menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

“Kenaikan harga pupuk tentu akan sangat mengganggu sektor pertanian, yang pada akhirnya berdampak langsung pada masyarakat di perdesaan,” tambah Huda.

Lebih lanjut, pelemahan rupiah juga berpotensi mempengaruhi harga berbagai komoditas pangan pokok yang sebagian besar diimpor. Komoditas seperti kedelai dan gandum menjadi contoh nyata yang rentan terhadap pergerakan kurs.

Mengutip dari CNBC Indonesia, setiap kali rupiah melemah, barang-barang impor, baik yang merupakan bahan baku industri maupun kebutuhan sehari-hari seperti gandum, kedelai, gula, hingga beras, akan menjadi lebih mahal. Jika harga bahan baku ini terus merangkak naik, maka harga produk olahan seperti mi instan, susu, tempe, hingga aneka jajanan yang berbahan dasar tepung, berpotensi mengalami kenaikan harga pula.

Artikel menarik Lainnya