Home » Kehamilan di Usia 40-an: Potensi Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Kehamilan di Usia 40-an: Potensi Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Skincapedia.com – Tren perempuan yang memutuskan untuk hamil dan melahirkan di usia 40 tahun ke atas semakin sering menjadi sorotan publik. Fenomena ini tidak hanya terlihat di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kalangan selebritas. Baru-baru ini, aktris ternama Anne Hathaway mengumumkan kehamilan anak ketiganya di usia 43 tahun. Ia menyusul jejak selebritas lain yang juga menimang buah hati di usia matang, seperti Syahrini yang mengandung anak pertamanya di usia 43 tahun, Chloë Sevigny yang melahirkan anak pertamanya pada tahun 2019 di usia 45 tahun, bahkan Janet Jackson yang menjadi ibu di usia 50 tahun pada tahun 2017.

Fenomena ini semakin menarik perhatian, terutama ketika dikaitkan dengan angka kelahiran yang cenderung menurun di banyak negara. Namun, di negara-negara maju, justru terlihat adanya peningkatan kelahiran dari ibu yang berusia di atas 40 tahun. Data dari Center for Human Reproduction menunjukkan bahwa di Amerika Serikat, perempuan berusia di atas 40 tahun yang hamil secara proporsional merupakan kelompok usia dengan pertumbuhan anak paling pesat. Tren serupa juga terpantau di negara-negara maju lainnya.

Tren Hamil dan Melahirkan di Usia 40 Tahun

Hamil di usia 40 tahun semakin marak khususnya di negara maju.

Peningkatan jumlah perempuan yang melahirkan di usia 40 tahun ke atas tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Singapura juga menunjukkan tren yang sama. Data dari Strait Times yang dikutip oleh CNBC Indonesia mencatat pada tahun 2025, diperkirakan akan ada 9,6 bayi lahir per 1.000 perempuan di kelompok usia 40-44 tahun, sementara 0,5 bayi lahir per 1.000 perempuan di kelompok usia 45-49 tahun.

Fenomena penundaan kehamilan hingga usia matang ini umumnya dipengaruhi oleh keputusan yang diambil secara matang. Profesor Jean Yeung, direktur ilmu sosial di Institut Pengembangan dan Potensi Manusia A*STAR, menjelaskan bahwa selama beberapa dekade terakhir, semakin banyak perempuan yang memilih untuk menunda pernikahan dan menjadi ibu. Hal ini dikarenakan mereka mengalokasikan lebih banyak waktu untuk mengejar pendidikan tinggi dan membangun karier profesional.

Dr. Kalpana Vignehsa, seorang peneliti senior di Institut Studi Kebijakan (IPS), menambahkan bahwa di antara pasangan yang sudah menikah, keputusan untuk memiliki anak seringkali merupakan pilihan yang disengaja dan bersyarat. Keputusan tersebut mempertimbangkan berbagai faktor penting seperti stabilitas karier dan pembagian tugas dalam rumah tangga sebelum akhirnya memutuskan untuk memiliki buah hati.

Risiko Kesehatan

Kehamilan di usia 40 tahun ke atas memiliki risiko kesehatan

Meskipun demikian, kehamilan dan persalinan di usia 40-an tetap memiliki sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Berdasarkan informasi dari Center for Human Reproduction, beberapa potensi risiko yang mungkin dihadapi oleh ibu hamil di usia 40-an antara lain:

  • Perempuan yang memiliki kondisi pradiabetes memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami diabetes gestasional, yaitu diabetes yang muncul selama kehamilan.
  • Kondisi hipertensi ambang batas (batas atas tekanan darah normal) lebih rentan berkembang menjadi hipertensi selama kehamilan, termasuk kondisi serius seperti preeklampsia dan eklampsia.
  • Bagi perempuan dengan masalah jantung, risiko mengalami dekompensasi jantung yang dapat berujung pada gagal jantung kongestif menjadi lebih besar.
  • Penyakit autoimun, yang biasanya cenderung membaik selama kehamilan, memiliki kemungkinan sangat tinggi untuk kambuh di akhir kehamilan, terutama pada periode pascapersalinan.
  • Masalah pada tulang belakang, seperti nyeri punggung bawah, seringkali memburuk secara signifikan pada perempuan yang hamil di usia 40 tahun. Hal ini disebabkan oleh hormon kehamilan yang menyebabkan pelonggaran ligamen, sehingga meningkatkan potensi masalah pada cakram tulang belakang.

Bagaimana menurut kamu?

Artikel menarik Lainnya