Home » Makanan Tradisional Khas Hari Raya Waisak Beserta Maknanya

Makanan Tradisional Khas Hari Raya Waisak Beserta Maknanya

Skincapedia.com – Hari Raya Waisak, yang juga dikenal sebagai Trisuci Waisak, merupakan momen paling sakral bagi umat Buddha di seluruh dunia. Perayaan ini diisi dengan berbagai kegiatan spiritual, mulai dari berdoa, melakukan pradaksina (berjalan mengelilingi candi atau vihara), hingga melepas lampion ke udara.

Namun, kemeriahan Waisak terasa kurang lengkap tanpa hidangan lezat yang disantap bersama keluarga dan kerabat. Berbagai makanan tradisional kerap tersaji, mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menyertainya.

Artikel ini akan mengulas tujuh makanan tradisional yang lazim disajikan saat Hari Raya Waisak, beserta makna mendalam di baliknya, mengutip dari detikFood.

1. Lotek

Sekilas mirip dengan karedok, lotek adalah hidangan yang bahan utamanya adalah sayuran rebus yang disiram bumbu kacang gurih. Makanan ini sering ditemukan saat perayaan Waisak, khususnya di wilayah Jawa Tengah.

Penyajian lotek selaras dengan prinsip vegetarian dalam ajaran Buddha. Prinsip ini menekankan welas asih dan penghindaran kekerasan terhadap makhluk hidup, yang sering diartikan sebagai pola makan tanpa daging.

Lotek yang disajikan saat Waisak melambangkan keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan ajaran Buddhisme yang mengutamakan kesederhanaan, kesehatan, dan rasa syukur.

2. Tempoyak

Tempoyak, sebuah warisan kuliner dari Tanah Melayu, seringkali menjadi sajian istimewa saat perayaan Waisak di Indonesia. Hidangan ini populer terutama di daerah Sumatra dan Kalimantan.

Makanan ini dibuat dari daging buah durian yang difermentasikan, kemudian dicampur dengan bawang, daun salam, dan berbagai bumbu rempah lainnya. Tempoyak biasanya diolah menjadi sambal, campuran gulai, atau pepes.

Rasanya yang unik, perpaduan asam, manis, dan pedas, serta aromanya yang khas, menjadikannya hidangan favorit yang dicari saat momen kebersamaan. Penyajian tempoyak saat Waisak melambangkan nilai welas asih, kesederhanaan, dan kebijaksanaan, sesuai dengan ajaran Buddha.

3. Nasi Lesah

Masyarakat Magelang memiliki tradisi merayakan Hari Waisak dengan menyantap nasi lesah setelah usai bersembahyang di vihara. Kuliner legendaris ini disajikan dalam piring, terdiri dari nasi, bihun, suwiran ayam, dan disiram kuah santan kuning yang gurih.

Hidangan yang sekilas mirip soto ini mencerminkan nilai hidup sederhana dan penuh rasa syukur. Penyajiannya juga menjadi simbol kebersamaan keluarga dan komunitas dalam merayakan momen suci Waisak dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan.

4. Mangut Beong

Masih dari Magelang, mangut beong juga menjadi hidangan khas yang kerap disajikan saat Hari Raya Waisak. Makanan ini berbahan dasar ikan beong, ikan endemik Sungai Progo, yang dimasak dengan kuah gulai pedas.

Kuah santan yang gurih berpadu dengan rempah-rempah menghasilkan hidangan yang kaya rasa dan lezat. Mangut beong biasanya disantap dengan nasi putih hangat dan lauk pendamping seperti telur rebus atau ayam goreng.

Hidangan ini mencerminkan kesederhanaan dan kehangatan yang menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual dan sosial dalam ajaran Buddha. Menyantapnya dapat mewakili rasa syukur dan kebersamaan dalam keluarga.

5. Nasi Gemuk

Nasi gemuk, yang dikenal sebagai sajian tradisional khas Jambi, merupakan salah satu hidangan yang tidak boleh absen saat Hari Raya Waisak. Tampilannya menyerupai nasi uduk, namun memiliki aroma yang lebih harum karena dimasak dengan santan, daun pandan, dan bumbu rempah.

Sebagai pelengkap, nasi gemuk yang gurih biasanya disajikan dengan berbagai lauk pauk seperti telur rebus atau telur suwir, ikan teri goreng, kacang tanah goreng, irisan timun, sambal, dan kerupuk.

Umat Buddha di Jambi biasa menyantap nasi gemuk setelah perayaan di vihara selesai. Hidangan utama ini melambangkan kesejahteraan, kelimpahan, keharmonisan, dan kebersamaan yang tercipta saat momen perayaan Waisak.

6. Kue Burgo

Berasal dari Palembang, kue burgo, yang memiliki tampilan mirip otak-otak gulung, juga sering disajikan saat merayakan Waisak. Kue burgo terbuat dari campuran tepung beras dan sagu yang didadar tipis, dikukus, lalu digulung dan dipotong-potong.

Masyarakat Buddha setempat biasa menikmati kue burgo saat berkumpul. Hidangan ini disajikan dengan siraman kuah santan gurih yang terbuat dari kaldu ikan gabus giling. Perpaduan cita rasa gurih dengan tekstur yang lembut menjadikannya makanan favorit saat Waisak.

Selain dinikmati oleh umat Buddha, kue burgo juga kerap dijadikan bagian dari persembahan kepada dewa berkat cita rasanya yang sederhana namun penuh makna. Hidangan gurih ini melambangkan kesederhanaan, kebaikan, ketulusan, dan warisan leluhur yang disajikan untuk mempererat tali persaudaraan.

7. Bubur Merah Putih

Di beberapa daerah di Indonesia, umat Buddha juga kerap menyajikan bubur merah putih saat perayaan Hari Raya Waisak. Makanan legendaris ini memiliki makna mendalam, melambangkan rasa syukur, doa keselamatan, keharmonisan, dan keseimbangan hidup.

Warna merah, yang berasal dari gula merah atau gula aren, melambangkan keberanian dan kekuatan. Sementara warna putih dari santan melambangkan kesucian dan ketenangan. Kombinasi kedua warna ini dianggap sebagai simbol persatuan dan keseimbangan, layaknya unsur api dan air, atau manusia dan roh.

Baca juga: Rekomendasi Film Romantis Klasik di Netflix untuk Nostalgia

Bagi Anda yang merayakan Waisak, adakah menu tradisional lain yang kerap tersaji di daerah Anda selain yang telah disebutkan di atas?

Artikel menarik Lainnya