Skincapedia.com – Teh merupakan minuman yang sangat akrab di kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari secangkir teh hangat di pagi hari, es teh di warung, hingga minuman kekinian seperti matchalatte, teh kerap dikonsumsi bahkan menggantikan air putih untuk melepas dahaga. Namun, perlu diwaspadai bahwa teh mengandung senyawa aktif seperti tanin, katekin, dan kafein yang dapat berinteraksi dengan nutrisi dalam makanan tertentu.
Interaksi ini bisa berdampak pada hilangnya manfaat teh, terhambatnya penyerapan nutrisi dari makanan, hingga membebani organ tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan baru. Bagi sebagian orang, kombinasi teh dengan bahan makanan tertentu yang dilakukan secara tidak sadar dalam jangka panjang dapat memicu masalah kesehatan serius. Penting untuk mengetahui daftar makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan teh untuk menghindari risiko tersebut.
Berikut adalah lima jenis makanan yang sebaiknya dihindari dikonsumsi bersamaan dengan teh, beserta penjelasan mengenai bahayanya:
1. Makanan Penambah Darah (Sayuran Hijau, Hati Ayam, Daging Merah, Tempe, Kacang Merah)

Bagi individu yang sedang dalam program peningkatan kadar hemoglobin melalui asupan zat besi, kebiasaan minum teh manis saat atau setelah makan dapat menggagalkan usaha tersebut. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi teh dapat menghambat penyerapan zat besi hingga lebih dari 85%, baik pada perempuan yang mengalami anemia maupun yang tidak.
Senyawa tanin dan polifenol dalam teh memiliki kemampuan untuk mengikat zat besi sebelum sempat diserap oleh usus. Akibatnya, zat besi tidak dapat berfungsi optimal dalam mengatasi anemia dan proses pemulihan akan melambat, meskipun pola makan sudah benar. Perlu dicatat bahwa teh lebih kuat menghambat penyerapan zat besi non-heme (yang berasal dari tumbuhan) dibandingkan zat besi heme (yang berasal dari hewan), karena struktur zat besi hewani memang lebih mudah diserap tubuh.
Solusi terbaik adalah mengonsumsi teh minimal satu jam sebelum atau sesudah makan makanan yang kaya zat besi. Alternatif lain, jika tetap ingin menikmati teh sebagai pendamping makan, prioritaskan konsumsi sumber zat besi hewani.
2. Makanan Pedas (Sambal, Seblak, Ayam Geprek)

Meskipun terlihat menggugah selera, kombinasi makanan pedas seperti sambal atau seblak dengan es teh manis ternyata membawa kabar buruk bagi kesehatan perut Anda. Makanan pedas, yang mengandung capsaicin, diketahui bersifat iritatif terhadap dinding lambung.
Ketika capsaicin bertemu dengan kafein dan tanin dalam teh, efek iritasinya akan berlipat ganda. Kafein dapat memicu produksi asam lambung berlebih, sementara tanin dapat mengiritasi dinding lambung dan semakin meningkatkan produksi asam lambung, yang pada akhirnya memperparah peradangan pada lambung. Bagi penderita maag atau GERD, kombinasi ini sering menjadi pemicu utama sensasi terbakar (heartburn) dan nyeri ulu hati.
Oleh karena itu, konsumsi teh dan makanan pedas tidak hanya perlu dikurangi, tetapi sebaiknya benar-benar dihindari oleh individu yang memiliki masalah lambung. Sebagai alternatif yang lebih aman, pilihlah susu dingin atau air putih. Kandungan protein (kasein) dalam susu terbukti efektif dalam menetralkan capsaicin dan menenangkan lambung setelah mengonsumsi makanan pedas.
3. Produk Susu Sapi

Baca juga: Tanda-tanda Kerusakan Skin Barrier dan Cara Mengatasinya
Bagi para penggemar matchalatte, teh tarik, atau teh susu hangat, informasi ini mungkin mengejutkan. Mencampurkan teh dengan susu sapi, secara ilmiah, dapat menimbulkan masalah. Lemak dalam susu dapat berikatan dengan katekin, antioksidan kuat yang banyak terkandung dalam daun teh.
Ikatan ini akan membentuk struktur yang menjebak katekin, sehingga tubuh tidak dapat menyerapnya secara efisien. Dr. William Li, seorang ilmuwan dan penulis buku bestseller Eat to Beat Disease, menyatakan bahwa penambahan susu sapi ke dalam teh dapat mengurangi bioavailabilitas katekin. Meskipun rasanya tetap nikmat, manfaat kesehatan utamanya sebagian besar tidak akan terserap oleh tubuh.
Penting untuk dicatat bahwa kombinasi teh atau matcha dengan susu sapi tidak berbahaya, namun hanya mengurangi manfaat teh. Jika tujuan Anda mengonsumsi teh adalah untuk mendapatkan manfaat katekinnya, disarankan untuk memilih varian teh tanpa susu sapi atau menggunakan susu nabati seperti oatmilk sebagai alternatif yang lebih kompatibel.
4. Makanan Tinggi Oksalat (Bayam, Cokelat, Kacang Tanah, Bit)

Oksalat adalah senyawa alami yang terdapat dalam tumbuhan. Dalam kondisi tertentu, oksalat dapat mengkristal di ginjal. Teh, terutama teh hitam, secara alami mengandung oksalat dan diketahui dapat meningkatkan ekskresi oksalat melalui urine, yang berarti lebih banyak oksalat yang dikirim ke ginjal untuk dibuang.
Jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan tinggi oksalat seperti bayam atau cokelat, beban kerja ginjal akan semakin berat. Selain itu, kelebihan oksalat dapat berikatan dengan kalsium dan membentuk kristal kalsium oksalat, yang merupakan penyebab paling umum dari batu ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi pada penurunan fungsi ginjal. Disarankan untuk menghindari konsumsi kombinasi ini secara bersamaan, menggantinya dengan air putih, dan memasak sayuran tinggi oksalat seperti bayam hingga benar-benar matang karena panas dapat mengurangi kadar oksalatnya.
5. Makanan Asam (Jeruk, Jus Buah, Acar)

Teh memiliki sifat sedikit asam dan mengandung tanin yang dapat mengiritasi lapisan lambung. Jika dikombinasikan dengan makanan yang memiliki kadar asam tinggi, efek iritasi keduanya dapat saling memperkuat. Situasi ini dapat diperparah oleh kandungan kafein dalam teh yang merangsang produksi asam lambung berlebih.
Akibatnya, dapat muncul keluhan seperti heartburn, mual, hingga rasa tidak nyaman di perut, bahkan pada individu yang tidak memiliki riwayat gangguan pencernaan. Secara umum, teh memang menawarkan banyak manfaat kesehatan, namun manfaat tersebut sangat bergantung pada cara dan waktu konsumsinya. Seperti yang telah dibahas, kombinasi dengan bahan tertentu dan waktu konsumsi yang salah dapat menghambat penyerapan nutrisi hingga memicu masalah pencernaan.
Jika tubuh Anda mulai menunjukkan sinyal ketidaknyamanan setelah mengonsumsi kombinasi makanan di atas, penting untuk meninjau kembali pola konsumsi Anda. Apabila keluhan berlanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
____
