Skincapedia.com – Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda merasa justru disalahkan ketika mencoba mengungkapkan perasaan Anda, padahal Anda adalah pihak yang terluka? Fenomena ini ternyata merupakan bagian dari pola manipulasi emosional yang dikenal dengan istilah DARVO.
Apa Itu DARVO?
Berdasarkan jurnal Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender (DARVO): What Is the Influence on Perceived Perpetrator and Victim Credibility? yang diterbitkan dalam Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma oleh Sarah Harsey dan Jennifer J. Freyd pada tahun 2020, DARVO adalah sebuah pola manipulasi yang dilakukan oleh pelaku. Pola ini terdiri dari tiga tahapan: menyangkal tindakan yang telah dilakukan, menyerang korban, dan kemudian membalikkan posisi korban serta pelaku.
Lantas, bagaimana pola DARVO ini biasanya terjadi? Mari kita kenali setiap tahapannya satu per satu.
Bagaimana Pola DARVO Terjadi?

Tahapan pertama dalam pola DARVO adalah Deny atau menyangkal. Pada fase ini, pelaku akan secara tegas menyangkal bahwa tindakan yang dituduhkan benar-benar terjadi. Melansir dari Harbor Mental Health, penyangkalan ini bertujuan untuk membuat korban mulai meragukan realitas yang mereka alami. Contoh ungkapan yang sering muncul adalah, “Aku tidak pernah mengatakan itu,” atau “Kamu terlalu berlebihan.”
Baca juga: Air Garam untuk Jerawat: Fakta yang Perlu Diketahui
Jika pola ini terus berlanjut, korban dapat mulai mempertanyakan ingatan dan perasaannya sendiri. Mereka bisa merasa bingung, apakah mereka memang terlalu sensitif atau justru sedang menjadi korban manipulasi.
Selanjutnya, pelaku akan memasuki tahap Attack atau menyerang. Setelah menyangkal, pelaku biasanya beralih menyerang korban secara emosional. Bentuk serangan ini bisa beragam, mulai dari meremehkan perasaan korban, menyalahkan korban atas situasi yang terjadi, hingga berusaha membuat korban terlihat sebagai pihak yang bermasalah.
Tujuan dari tahap penyerangan ini adalah mengalihkan perhatian dari tindakan asli pelaku ke reaksi yang ditunjukkan oleh korban. Akibatnya, korban menjadi lebih fokus untuk membela diri daripada membahas akar permasalahan yang sebenarnya.
Tahap terakhir dan yang paling krusial secara emosional adalah Reverse Victim and Offender. Di sini, pelaku secara aktif membalikkan peran, menempatkan diri mereka sebagai korban. Sementara itu, korban justru digambarkan seolah-olah mereka yang menyakiti, atau yang biasa disebut sebagai playing victim. Contoh kalimat yang mungkin dilontarkan adalah, “Aku lelah terus-terusan dituduh seperti ini,” atau “Kamu yang membuat hubungan kita menjadi buruk.”
Menurut penelitian oleh Sarah Harsey dan Jennifer J. Freyd, pola DARVO ini memiliki potensi besar untuk memengaruhi persepsi orang lain terhadap korban maupun pelaku, terutama jika manipulasi tersebut dilakukan secara konsisten dan berulang.
Dampak DARVO pada Korban

Dampak dari pola manipulasi DARVO tidak hanya terasa saat konflik terjadi, tetapi juga dapat memberikan efek emosional jangka panjang bagi korban. Korban mungkin mengalami perasaan bersalah yang mendalam, kebingungan yang terus-menerus, dan hilangnya rasa percaya diri secara signifikan.
Artinya, manipulasi semacam DARVO dapat memperburuk kondisi emosional korban, terutama jika mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi sasaran pola manipulasi ini sejak awal.
Kenapa Penting Mengenali DARVO?

Pola DARVO seringkali terjadi secara halus dan berulang, terutama dalam konteks hubungan romantis, pertemanan, bahkan di lingkungan kerja. Oleh karena itu, memahami pola ini menjadi sangat penting. Kesadaran akan taktik DARVO dapat membantu kita untuk lebih waspada terhadap situasi di sekitar kita dan mampu melihat konflik secara lebih objektif.
Jika Anda merasa mengalami hal ini, atau melihat orang-orang di sekitar Anda mengalaminya, penting untuk diingat bahwa perasaan Anda dan perasaan mereka adalah valid. Setiap individu berhak untuk didengarkan dan diakui.
