Skincapedia.com – Setiap individu pasti pernah merasakan keraguan diri dalam momen-momen tertentu. Namun, ketika perasaan tersebut hadir secara berulang dan mulai memengaruhi cara pandang serta tindakan, hal itu bisa menjadi indikasi adanya harga diri atau self-esteem yang rendah.
Seseorang yang bergulat dengan self-esteem rendah cenderung melakukan serangkaian kebiasaan, sering kali tanpa menyadarinya. Kebiasaan-kebiasaan ini bisa muncul sebagai respons pertahanan diri, namun dalam jangka panjang berpotensi menghambat perkembangan pribadi dan kebahagiaan. Yang menarik, banyak dari perilaku ini tampak lumrah dalam keseharian, sehingga sering kali luput dari perhatian sebagai isu yang perlu ditangani. Jika terus berlanjut, kebiasaan berikut bisa menjadi sinyal peringatan bahwa seseorang sedang menghadapi tantangan dalam membangun rasa percaya diri.
Terlalu Sering Merendahkan Diri Sendiri

Individu dengan harga diri rendah kerap memiliki pandangan bahwa diri mereka tidak cukup baik. Konsekuensinya, mereka sering kali melontarkan komentar-komentar negatif mengenai diri sendiri, baik dalam nuansa candaan maupun pernyataan yang serius.
Profesor psikologi Jeffrey S. Nevid menekankan bahwa kata-kata yang kita gunakan memiliki kekuatan psikologis yang signifikan, sebab manusia berpikir melalui bahasa. Semakin sering seseorang memberikan label negatif pada dirinya, semakin dalam keyakinan tersebut tertanam di benaknya. Oleh karena itu, menjadi krusial untuk mulai memperhatikan cara kita berbicara kepada diri sendiri setiap hari.
Terlalu Sering Meminta Maaf

Pernahkah Anda merasa perlu untuk meminta maaf, padahal sebenarnya tidak melakukan kesalahan?
Orang dengan harga diri rendah sering kali merasa bertanggung jawab atas kenyamanan orang-orang di sekitarnya. Mereka dibayangi kekhawatiran bahwa jika tidak bertindak “sempurna”, orang lain akan menjauh atau bahkan meninggalkan mereka.
Menurut laporan dari CNBC, meskipun memiliki rasa tanggung jawab adalah sifat positif, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan justru dapat mengikis kepercayaan diri seseorang dan mengurangi bobot makna dari sebuah permintaan maaf itu sendiri.
Sulit Menerima Pujian

Ketika menerima pujian, sebagian orang akan dengan tulus mengucapkan terima kasih. Namun, bagi mereka yang memiliki harga diri rendah, menerima apresiasi bisa menjadi sebuah tantangan besar.
Mereka cenderung menganggap pujian tersebut tidak tulus atau merasa bahwa diri mereka memang tidak pantas menerimanya. Psikoterapis Myron Nelson menjelaskan bahwa kesulitan dalam menerima pujian bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari rendahnya harga diri itu sendiri, pengalaman masa lalu, depresi, hingga pola asuh saat masa kanak-kanak. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk mengabaikan, bahkan menyangkal, apresiasi yang diberikan oleh orang lain.
Mengorbankan Batasan Diri Demi Menyenangkan Orang Lain

Batasan atau boundaries berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan emosional seseorang. Namun, individu yang kurang percaya diri sering kali mengabaikan kebutuhan pribadi mereka demi membahagiakan orang lain.
Mereka diliputi ketakutan dianggap egois atau ditinggalkan jika berani menolak atau mengatakan “tidak”. Padahal, mengorbankan diri secara terus-menerus demi menyenangkan orang lain dapat memicu kelelahan emosional dan menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan.
Menolak Kesempatan Baik Karena Merasa Tidak Layak

Peluang untuk promosi jabatan, melanjutkan pendidikan, atau mendapatkan pengalaman baru sering kali datang kepada individu yang sebenarnya memiliki potensi besar. Sayangnya, orang dengan harga diri rendah kerap kali menolak tawaran tersebut karena merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain.
Mereka terus meragukan kemampuan diri sendiri, meskipun orang lain mampu melihat potensi yang signifikan dalam diri mereka. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan berharga untuk berkembang dan membuktikan kapabilitas yang sebenarnya mereka miliki.
Terus-Menerus Mencari Validasi dari Orang Lain

Salah satu indikator paling umum dari harga diri yang rendah adalah kebutuhan konstan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Mereka sering kali bertanya apakah keputusan yang telah diambil sudah tepat, mencari pujian, atau merasa lega hanya ketika mendapatkan persetujuan dari lingkungan sekitar.
Psikoterapis Sherry Gaba berpendapat bahwa ketergantungan pada validasi eksternal, baik melalui media sosial maupun interaksi langsung, dapat memicu kecemasan, depresi, dan lebih lanjut menurunkan rasa percaya diri seseorang. Oleh karena itu, belajar untuk menghargai diri sendiri tanpa selalu bergantung pada penilaian orang lain merupakan langkah fundamental dalam membangun self-esteem yang lebih sehat.
Dari keenam kebiasaan yang telah diuraikan, adakah di antaranya yang pernah atau masih sering Anda lakukan tanpa disadari?
