Home » Kebiasaan yang Dikira Sehat Ternyata Berbahaya bagi Ginjal

Kebiasaan yang Dikira Sehat Ternyata Berbahaya bagi Ginjal

Skincapedia.com – Ginjal memegang peranan krusial bagi kelangsungan hidup manusia, tidak hanya sebagai penyaring darah dan pembuang zat sisa, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan cairan, mineral, serta memproduksi hormon vital.

Selain gaya hidup tidak sehat yang jelas membahayakan ginjal, para ahli medis kini menyoroti sejumlah kebiasaan yang kerap dianggap positif namun justru berpotensi membebani dan merusak ginjal secara perlahan tanpa disadari.

Artikel ini, mengutip dari Bestlife, akan mengupas tuntas lima kebiasaan yang keliru dianggap sehat ini dan dampaknya terhadap kesehatan ginjal.

1. Terlalu Banyak Minum Air

Minum air dalam jumlah masif dalam rentang waktu singkat dapat memicu kondisi overhidrasi. Ginjal memiliki kapasitas terbatas dalam memproses cairan, yakni sekitar 0,8 hingga 1 liter per jam, sebagaimana dijelaskan oleh Calm.com.

Apabila asupan cairan melebihi kemampuan ginjal untuk menyaringnya, konsentrasi elektrolit dalam darah, khususnya natrium, bisa menjadi terlalu encer. Natrium sangat penting untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam dan luar sel tubuh.

Penurunan kadar natrium yang drastis dapat menyebabkan pembengkakan sel, termasuk sel otak, yang berujung pada gejala serius. Dokter spesialis urologi, David Shusterman, MD, menyarankan agar minum hanya ketika merasakan haus, dan warna urine kuning pucat umumnya menjadi indikator hidrasi yang memadai.

2. Mengonsumsi Suplemen Tertentu

Beberapa suplemen, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatan ginjal. Contohnya, kunyit, vitamin C dosis tinggi, dan kalsium dosis tinggi berpotensi meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.

Sementara itu, vitamin D dapat menjadi masalah bagi individu yang menderita penyakit ginjal kronis. Suplemen bisa bermanfaat jika digunakan dengan benar, namun konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya sangat dianjurkan untuk memahami manfaat, efek samping, dan potensi interaksi dengan obat lain.

3. Mengonsumsi Protein Secara Berlebihan

Konsumsi protein yang berlebihan, terutama melalui minuman atau suplemen protein dalam jumlah besar sebagai bagian dari regimen kebugaran, dapat membahayakan ginjal.

Shusterman menjelaskan bahwa asupan protein dua hingga tiga kali lipat dari kebutuhan harian tidak akan mempercepat pertumbuhan otot, namun justru membebani kerja ginjal. Dokter spesialis ginjal, Tim Pflederer, MD, menambahkan bahwa protein hewani dapat memberikan beban lebih berat pada ginjal, khususnya bagi penderita penyakit ginjal kronis.

Protein adalah nutrisi esensial, namun pemilihan sumbernya penting. Pflederer merekomendasikan untuk lebih memilih protein nabati dari kacang-kacangan, kedelai, biji-bijian, quinoa, dan lentil. Shusterman menyarankan asupan protein harian sekitar 0,8-1 gram per kilogram berat badan, kecuali ada rekomendasi medis yang berbeda.

4. Minum Teh Detoks

Meskipun sering diklaim mampu membersihkan tubuh dari racun dan membantu penurunan berat badan, klaim teh detoks minim bukti ilmiah. Shusterman justru memperingatkan potensi bahayanya bagi kesehatan ginjal.

Banyak teh detoks mengandung zat diuretik yang meningkatkan produksi urine. Efek ini dapat menyebabkan penurunan berat badan sementara akibat kehilangan cairan, bukan lemak. Konsumsi berlebihan dapat memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang membebani ginjal.

Selain itu, teh detoks sering mengandung bahan herbal yang tidak teregulasi ketat seperti akar licorice, St. John’s wort, dan daun senna, yang beberapa di antaranya diketahui dapat berdampak buruk pada ginjal. Shusterman menekankan bahwa ginjal adalah sistem detoksifikasi alami tubuh. Untuk menjaga fungsinya optimal, fokus pada pola makan kaya makanan utuh dan serat, serta pastikan hidrasi tubuh tercukupi.

5. Mengonsumsi Obat NSAID Secara Berlebihan

Kebiasaan

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen umum digunakan untuk meredakan nyeri, peradangan, dan demam.

Kemudahan akses tanpa resep dan persepsi rendahnya risiko ketergantungan membuat banyak orang menggunakannya tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang. Padahal, menurut Shusterman, penggunaan NSAID secara berlebihan dapat memberikan tekanan signifikan pada ginjal.

Disarankan untuk menggunakan obat pereda nyeri hanya saat benar-benar diperlukan. Untuk nyeri otot ringan sehari-hari, pendekatan yang lebih aman seperti peregangan, istirahat cukup, dan hidrasi yang memadai lebih dianjurkan.

Menjaga kesehatan ginjal juga melibatkan penghindaran produk tembakau, pemeliharaan berat badan ideal, olahraga rutin, pembatasan asupan garam, dan pemantauan tekanan darah secara teratur. Informasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Artikel menarik Lainnya