Home » Mata Uang Paling Lemah di Dunia, Termasuk Rupiah

Mata Uang Paling Lemah di Dunia, Termasuk Rupiah

Skincapedia.com – Kekuatan nilai tukar mata uang suatu negara seringkali menjadi cerminan kondisi ekonominya. Semakin tinggi jumlah mata uang lokal yang dibutuhkan untuk ditukar dengan satu dolar Amerika Serikat (AS), semakin lemah pula mata uang tersebut. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari laju inflasi, beban utang luar negeri, gejolak politik, hingga melambatnya laju pertumbuhan ekonomi.

Menariknya, daftar mata uang terlemah di dunia pada tahun 2026 tidak hanya dihuni oleh negara-negara yang tengah bergulat dengan krisis berkepanjangan. Beberapa negara berkembang di Asia dan Timur Tengah pun turut masuk dalam daftar ini. Bahkan, mata uang Indonesia, rupiah, juga teridentifikasi berada dalam daftar tersebut. Merujuk pada laporan Forbes per Mei 2026, berikut adalah daftar mata uang terlemah di dunia.

1. Rial Iran (IRR)

Iran menduduki posisi teratas sebagai negara dengan mata uang terlemah di dunia melalui rial Iran (IRR). Berdasarkan data terkini dari konverter mata uang, nilai satu rial Iran hanya setara dengan USD0,000001. Dengan kata lain, satu dolar AS membutuhkan sekitar 1.315.000 rial Iran untuk penukarannya.

Sejarah penggunaan rial Iran sendiri sudah dimulai sejak akhir abad ke-18. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, nilainya terus menerus mengalami tekanan signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh sanksi ekonomi internasional yang berdampak buruk pada sektor perdagangan dan energi negara tersebut, meskipun Iran dikenal sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar global.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat juga semakin memperburuk kondisi mata uang Iran. Eskalasi konflik ini kembali menekan nilai rial dan memicu ketidakstabilan ekonomi domestik yang kian dalam.

2. Pound Lebanon (LBP)

Lebanon menempati peringkat kedua dalam daftar ini dengan mata uang pound Lebanon (LBP). Saat ini, nilai satu pound Lebanon hanya setara dengan USD0,000011, yang berarti satu dolar AS bernilai sekitar 89.432 pound Lebanon.

Negara yang berlokasi di kawasan Timur Tengah ini telah bertahun-tahun bergulat dengan tekanan ekonomi yang luar biasa berat. Tingginya angka inflasi, tingkat pengangguran yang terus meningkat, kelemahan sistem perbankan, serta instabilitas politik yang kronis menjadi penyebab utama merosotnya nilai tukar pound Lebanon terhadap dolar AS.

Meskipun Lebanon memiliki basis ekonomi jasa yang cukup kuat dan aktivitas ekspor yang meliputi produk kimia, logam, hingga makanan dan minuman, kombinasi berbagai krisis yang melanda membuat mata uangnya terus melemah dalam beberapa tahun terakhir.

3. Dong Vietnam (VND)

Vietnam berada di posisi ketiga dengan mata uang dong Vietnam (VND). Saat ini, nilai tukar satu dong Vietnam setara dengan USD0,000038, atau dibutuhkan sekitar 26.319 dong untuk memperoleh satu dolar AS.

Vietnam dikenal sebagai salah satu negara dengan laju pertumbuhan industri yang sangat pesat, terutama di sektor-sektor seperti elektronik, tekstil, dan energi. Sektor jasa juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap produk domestik bruto negara tersebut.

Namun demikian, tekanan ekonomi global turut memberikan dampak pada nilai dong Vietnam. Pembatasan ekspor, perlambatan perdagangan internasional, serta kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat turut memengaruhi stabilitas mata uang negara Asia Tenggara ini.

4. Kip Laos (LAK)

Laos menggunakan kip Laos (LAK) sebagai mata uang nasionalnya sejak tahun 1950-an. Saat ini, nilai satu kip Laos hanya setara dengan USD0,000046, atau sekitar 21.971 kip dibutuhkan untuk mendapatkan satu dolar AS.

Sebagai negara yang tidak memiliki akses laut, Laos sangat bergantung pada ekspor komoditas utama seperti emas, tembaga, dan kayu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara ini menghadapi perlambatan ekonomi yang cukup signifikan.

Lonjakan utang luar negeri dan tingginya angka inflasi menjadi faktor utama yang terus melemahkan nilai mata uang Laos. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya daya saing ekonomi dan tekanan yang dialami sektor perdagangan negara tersebut.

5. Rupiah Indonesia (IDR)

Indonesia turut masuk dalam daftar mata uang terlemah di dunia dengan mata uang rupiah (IDR). Saat ini, nilai satu rupiah setara dengan USD0,000057, atau sekitar Rp17.420 dibutuhkan untuk satu dolar AS.

Bahkan, nilai tukar rupiah sempat mencapai rekor terendah dalam sejarahnya pada Jumat, 15 Mei 2026, yaitu di kisaran Rp17.600 per dolar AS. Kondisi pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi inflasi global yang tinggi, ketidakpastian ekonomi, serta kekhawatiran akan potensi resesi dunia.

Meskipun demikian, Indonesia tetap memegang predikat sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sektor jasa, perdagangan, serta kekayaan sumber daya alam masih menjadi pilar utama penopang perekonomian nasional di tengah tekanan nilai tukar yang sedang dihadapi.

6. Som Uzbekistan (UZS)

Uzbekistan menggunakan som (UZS) sebagai mata uang nasionalnya sejak tahun 1993. Saat ini, nilai satu som hanya setara dengan USD0,000083, atau sekitar 11.999 som dibutuhkan untuk satu dolar AS.

Uzbekistan dikenal sebagai salah satu produsen kapas terbesar di dunia dan memiliki cadangan minyak, gas, serta mineral yang cukup melimpah. Namun, reformasi ekonomi yang sedang dijalankan oleh negara tersebut masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Tingginya angka inflasi, tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang cenderung lambat, hingga persoalan korupsi menjadi faktor-faktor yang terus memberikan tekanan pada nilai mata uang Uzbekistan.

7. Franc Guinea (GNF)

Guinea menggunakan franc Guinea (GNF) sebagai mata uang nasionalnya sejak tahun 1959. Saat ini, nilai satu franc Guinea hanya setara dengan USD0,000114, atau sekitar 8.777 franc Guinea dibutuhkan untuk satu dolar AS.

Negara yang terletak di Afrika sub-Sahara ini sebenarnya diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, termasuk emas dan berlian. Namun, berbagai permasalahan internal yang dihadapi membuat perekonomian negara tersebut sulit untuk berkembang secara stabil.

Inflasi yang tinggi, konflik militer yang berkepanjangan, serta arus pengungsi yang datang dari negara-negara tetangga seperti Liberia dan Sierra Leone, menjadi faktor-faktor yang terus menekan nilai mata uang Guinea dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Dampak Melemahnya Rupiah bagi Masyarakat Desa

Demikianlah daftar mata uang terlemah di dunia per Mei 2026. Bagaimana pandangan Anda mengenai kondisi ini?

Artikel menarik Lainnya